Kamis, 08 Maret 2012

Dear Mister

Dear Mister,
I know that we have not properly introduced
But I feel like I've known you for a long time
And I supposed you feel the same way?

Dear Mister,
I like your smell
I don't know what parfume do you wear
But it reminds me of a cozy bed

Dear Mister,
Do you smile a lot?
Well if you don't, I think you should
Because you look cute with that dimples

Dear Mister,
Can you spell my name?
Or at least say a simple 'Hi' to me
Your voice is so soft, I can hear it over and over

Dear Mister,
I really could not describe
How my heart can beat so fast
Just by the single looks of yours

Dear Mister,
If only we could talk this casual
You know I wouldn't wrote this letter
Because then, I would simply be yours


Sincerely,


The loving me..

Kisah Sebuah Cangkir

"Lihat, lihat!," seru seorang gadis di balik kaca etalase. Menunjuk-nunjuk bersemangat ke arahku. Aku pun tetap berdiri pongah. Kecantikanku memang tiada banding. Tinggi semampai, dengan ukiran abstrak dan warna menarik. Siapa yang tidak tergoda untuk mendekatiku. Menyentuhku. Menyecapku.

Lima tahun kami bersama. Kami memiliki pasangan masing-masing. Ia bersama pasangannya. Aku bersama pasanganku.

Setiap pagi kamu bersua. Ia bersenda gurau dengan pasangannya.Saling bersentuhan.Sementara kami hanya saling menatap. Mengagumi keindahan satu sama lain tanpa sapa. Menyadari kehadiran satu sama lain. Menikmati kebersamaan kami.

"Ah," pikirku. "Andai aku bisa bersuara." Benar. Jika kami bersuara, mungkin kami dapat saling memanggil, dapat saling melempar pujian, dapat saling sekedar menyapa.

Lalu kami bertemu lagi di sore hari. Kadang banyak cangkir lainnya. Tapi lebih sering, hanya kami berdua. Udara dipenuhi celoteh mereka berdua, sambil diselingi dentang sendok garpu dan piring. Pada situasi ini, kami berseberang-seberangan. Jarak ini merupakan jarak terjauh kami. Seringkali aku berpikir, "Alangkah baiknya jika aku memiliki sepasang kaki." Karena dengan begitu, aku bisa berlari menghampirinya, mengelilinginya, atau berdansa dengannya.

Dan jika malam semakin larut, kami menghabiskan waktu di depan sebuah layar besar berwarna, dengan orang-orang yang tampak lebih kecil di balik layar tersebut. Kadang kami bisa berada sangat dekat. Begitu dekat hingga aku berpikir, "Aku berharap aku memiliki sepasang tangan." Maka kami akan saling bersentuhan, saling meraba, atau bahkan berpelukan.

Tapi bahkan ada hari-hari panjang dimana kami tidak bertemu sama sekali. Aku di dalam rakku. Dia di dalam raknya. Terpisah jarak entah berapa jauh. Bahkan tidak dapat saling memandang. Apakah dia masih disana?

Kadang-kadang aku dapat mendengar keributan. Suara-suara yang tidak menyenangkan. Teriakan pada satu sama lain. Kata-kata yang sepertinya tidak pantas diucapkan diantara dua orang yang saling menyayangi. Dan setengah dirikupun bersyukur karena berada di dalam rakku.

Di satu pagi biasa, aku pun keluar dari rakku. Aku melihatnya. Aku melihat pria itu. Tapi aku tidak melihat cangkir itu. Setelah beberapa saat yang sunyi, keributan pun kembali terjadi. Lama. Hingga si pria keluar dari rumah. Dia pun masuk ke kamar. Kesibukan selanjutnya di rumah itu, aku dapat melihatnya. Karena aku masih disana. Terlupakan. Tanpa mereka. Tanpa pasanganku.

Entah berapa hari lewat hingga ia menyentuhku kembali. Membersihkanku, dan kembali ke rutinitas biasa. Tanpa pria itu. Tanpa cangkir itu.

Sore itu pun juga.

Malam itu pun juga.

Tapi lalu si pria datang. Dia membawa sebuah botol, dan bukan cangkir. Dan aku kembali merasa kehilangan. Sementara mereka berdua kembali bertengkar. Kali ini si pria menyentuhnya dengan kasar. Menamparnya. Keributan pun kembali terjadi.

Dan aku teringat harapan-harapanku terdahulu.

Dan aku bersyukur tidak ada yang terkabul.

Karena dengan begitu, walaupun kami tidak akan bertemu kembali, kami dapat mengenang satu sama lain dalam kebaikan.

Dalam kasih sayang, yang tidak perlu ditunjukkan dengan ucapan dan sentuhan.

Dalam sunyi pun, aku masih bisa mencintaimu.

***
S.V


Minggu, 04 Maret 2012

Presence

Uap tipis mengepul dari kedua cangkir berisi teh yang saling berhadapan. Kutangkupkan tanganku di atas cangkir, meraba kehangatannya. Aku menatap cangkir di seberangku, dan sosok tak kasat mata di hadapannya.

Aku tersenyum. 'Hai', sapaku dalam hati. 'Bagaimana harimu?'

Sosok itu tak menjawab. Dan aku lagi-lagi tersenyum.

Suara letusan jagung kering di dalam panci sudah berhenti. Popcorn ku tampaknya sudah matang. Aku bangkit menuju dapur dan menyiapkan semangkuk besar popcorn dan membawanya ke ruang tivi. Kedua cangkir teh kupindahkan ke meja di depan televisi. Bersisian.

Aku mengambil tempat di sofa di depan meja. Mengatur posisi yang nyaman, dan membungkus diriku dengan sebuah jumpsuit merah yang lusuh, yang entah sudah berapa lama kubiarkan tergeletak disana. Menyimpan aroma-aroma favoritku.

Televisi menayangkan acara kesukaan kami berdua. Aku dan dia.

Aku tertawa mengkuti laga para pemainnya dalam balutan kostum berwarna-warni, memainkan parodi yang mengocok perut sambil sesekali menyeruput teh hangat dalam cangkirku, atau meraup segenggam popcorn dari  dalam mangkuk.

'Kriiiiinnngg...', telepon berdering.

Aku menengadah memandang jam dinding yang tergantung di atas televisi. Jam menunjukkan pukul 23.00. Itu dia!, seruku dalam hati. Sontak aku berlari menghampiri telepon.

Berbagai kalimat yang telah kususun seminggu ini berlarian cepat di kepalaku. "Halo?" sapaku pada seseorang di seberang sana.

"Hai, sayang. Apa kabar?" balasnya hangat.

Dan seluruh kalimat itu luruh menjadi sebuah senyum hangat dan kalimat sederhana, "Aku rindu padamu". Dan ini sudah lebih dari cukup.

***
SV.