Sabtu, 06 November 2010

Alasanku Bertahan


Hari ini matahari bersinar dengan teriknya. BMG memperkirakan suhu hari ini mencapai 290C. Tapi bagiku, hari ini seperti ada badai dengan angin puyuh kencang, saat kudengar dokter mengucapkan kalimat-kalimat aneh yang berada di luar penalaranku. Satu hal yang dapat kutangkap dari perkataannya, bahwa tidak ada satu pun merupakan kabar baik bagiku.
“Jadi bagaimana selanjutnya dok?” tanya ibuku dengan raut wajah cemas dan nada tertekan.
Pria separuh baya yang hampir botak itu pun menatapku dari atas kacamatanya, sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke ibuku. “Mungkin ada baiknya mengikuti terapi selama satu bulan ini, untuk melihat perkembangan”
Aku yang masih tidak mengerti—dan mungkin jadi lebih cemas daripada ibuku karena hal itu—memandang mereka bergantian, menuntut jawaban yang lebih sederhana.
“Positif Carpal Tunnel Syndrome” ibuku membuka penjelasan dengan satu kalimat yang masih tidak kumengerti saat kami duduk berdua di kamarku sore itu.
“Aduh mama, coba pakai bahasa yang lebih manusiawi dong!” kataku setengah jengkel.
Ibu masih menatapku dengan pandangan prihatin dan cemas. “Itu,” ibuku tampak memilih-milih kata, “sejenis penyakit syaraf akibat syaraf jari tanganmu tidak lagi berada di tempatnya, sehingga kamu kehilangan gerak jarimu, khususnya jempol, telunjuk, dan jari tengah”
“Kehilangan gerak jari?” aku mengulang pernyataan terakhir beliau dengan ekspresi yang lebih dramatis. “Maksud mama, aku tidak akan bisa menggerakkan tanganku lagi?” mataku mulai terasa panas.
“Bukan begitu Astri sayang” ibuku tampak mencoba menenangkanku. “Tidak benar-benar hilang, hanya tidak normal saja”
Aku berusaha mencerna kata-katanya. “Bisa sembuh kan?” hanya satu pertanyaan itu yang terus-menerus menghantuiku.
“Makanya kita coba ikut terapi, ya?”
Saat mendengar jawabannya, aku tahu bahwa artinya kesembuhanku hanya berupa kemungkinan. Seluruh tubuhku terasa lemas, seakan ada suatu kekuatan yang menyedot energiku tiba-tiba, hingga tampaknya yang bisa aku lakukan saat itu hanyalah mencoba bernafas dengan normal.
Hari-hari berikutnya malah lebih buruk lagi. Aku merasa hidup seperti robot. Makan dan minum bagiku tampak seperti kewajiban. Bahkan tawaku pun terasa hambar dan kosong. Dan saat-saat dimana aku sedang sendiri, aku hanya bisa melamun memandang langit, berharap semua akan baik-baik saja.
Sebetulnya tidak banyak yang berubah sejak vonis dokter tersebut. Aku tidak perlu memakai gips, kursi roda, atau alat bantu layaknya orang cacat. Teman-temanku pun tidak ada yang mengetahui soal penyakitku ini.
Bukan ingin mencoba menutup diri. Tapi aku terlalu takut mengatakan yang sebenarnya. Aku belum siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan, tatapan cemas, atau rasa kasihan dari mereka. Aku ingin, setidaknya, orang lain bisa bersikap normal padaku.
Namun biar bagaimana pun, kehidupanku tidak lagi normal. Tulisanku semakin kecil dan jelek. Cara menulisku pun menjadi aneh dan sangat lambat. Hal ini tentu saja banyak mempengaruhi kegiatanku di kampus, terutama bidang akademik seperti penulisan laporan atau pun mencatat materi kuliah.
“Na, aku boleh pinjam catatanmu tidak?” tanyaku pada Nina, temanku yang paling rapih dan telaten dalam hal catat-mencatat.
“Kamu kenapa sih? Kok akhir-akhir ini jadi sering meminjam catatan?” Nina memandangku heran.
“Iya nih. Aku baru sadar, kalo ternyata aku lebih mudah mengerti materi kuliah kalau memperhatikan. Jadi aku sekarang malas mencatat. Maaf ya” kilahku.
“Oh, nggak apa-apa. Setiap hari juga nggak apa-apa” balas Nina tersenyum sambil memberikanku catatannya.
Aku mengambil catatannya sambil terus bersyukur dalam hati karena mempunyai teman yang begitu baik.
Terapi yang kulakukan di rumah sakit setelah kuliah, lebih seperti latihan untuk menggerakkan syaraf-syarafku. Bukan hanya tangan, tapi hampir seluruh tubuh. Dr. Ardi mengatakan latihan yang cukup dan kontinu bisa memulihkan koordinasi syaraf-syaraf tubuhku. Terapinya sendiri hanya berlangsung selama satu jam, tapi biasanya di akhir sesi ibuku dan Dr. Ardi akan berdiskusi tanpa melibatkan aku, sehingga kebanyakan waktu kuhabiskan di bangku taman rumah sakit. Memperhatikan pasien dan kerabatnya menikmati hari.
Sore pada hari keempat terapi, aku menjelajahi taman belakang rumah sakit dan menemukan sekelompok anak-anak berseragam putih rumah sakit sedang bermain dengan gembira, ditemani seorang pria yang tampak beberapa tahun lebih tua dariku.
Aku duduk mengawasi kegembiraan itu berlangsung. Entah mengapa, aku merasakan seperti ada kehidupan lain di sana. Kehidupan yang begitu berbeda, yang tidak aku temukan di bagian lain rumah sakit umum ini.
Sadar sedang diawasi, si pria tersenyum kepadaku dan melambaikan tangannya, mengajakku bergabung. Aku tersenyum sopan dan menggelengkan kepala. Tampak tidak puas dengan penolakanku, si pria mengatakan sesuatu kepada anak-anak tersebut dan berjalan menghampiriku, ikut duduk di sebelahku.
“Mau ikut main bersama?” tanyanya.
“Tidak, terima kasih” jawabku formal. Hal yang otomatis selalu kulakukan setiap bertemu orang asing berjenis kelamin laki-laki. Tampaknya aku wanita yang sangat konvensional, sehingga takut bersikap ramah akan disalahartikan sebagai tindakan yang ‘mengundang’.
Dia menatapku heran, dan sedetik kemudian tampak tertarik, entah pada wajahku atau jawabanku. “Kamu sedang apa disini?” tanyanya.
“Duduk” jawabku singkat. Dan dia pun spontan tergelak, tampak sangat geli.
“Maksudku apa yang dilakukan gadis kecil seperti kamu di rumah sakit sebesar ini?”
Aku berpaling dan menatap langsung dengan ekspresi tersinggung. “Maaf ya mas, tapi saya sudah 20 tahun. Saya ke sini menemani ibu saya” jawabku sinis. “Lagipula bukan urusan kamu juga kan?”
“Oh, menemani ibu…” ulangnya lambat-lambat. “Saya hanya khawatir. Habis, kamu datang dari sayap bagian UGD dan penyakit dalam”
Entah kenapa aku merasa pernyataannya terdengar tulus, dan perasaanku berubah. Sikapku pun melembut. “Nggak ada yang gawat kok” tambahku. “Kamu sedang apa dengan anak-anak itu?”
Menyadari sikapku yang berubah dan lebih terbuka, dia kembali tersenyum. “Aku sedang menemani anak-anak bermain”
“Mereka pasien disini?” tanyaku. Dan dia hanya membalas dengan anggukan. “Bagian apa?”
“Macam-macam” dia menyebutkan satu per satu penyakit-penyakit yang cukup berat. Patologi, syaraf, kanker, membuatku merinding, mengingat usia mereka yang masih begitu muda.
“Kamu perawat disini?” aku bertanya lagi, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Dia pun menggeleng. “Ada dokter kenalanku disini. Waktu sedang bertemu beliau, aku melihat Ramon—anak yang itu,” dia menunjuk salah seorang bocah laki-laki, “sedang melihat ke luar jendela. Jadi aku ajak saja bermain. Lalu banyak anak yang ingin ikut. Aku pun berpikir, kenapa tidak menjadikan ini kegiatan rutin saja? Toh aku pun suka anak-anak” jelasnya.
Aku memandang kumpulan anak-anak yang sedang bermain dengan gembira itu, dan tiba-tiba jantungku berdesir. Timbul perasaan damai, melihat anak-anak begitu riang, padahal hidup mereka sangat berat. Menghadapi jarum suntik, obat, makanan rumah sakit, dan dibatasi oleh dinding-dinding bata rumah sakit yang dingin. Jauh dari pelukan orang tua mereka.
Tiba-tiba ada satu hal yang terbersit di pikiranku. “Jadi, kenalanmu dokter? Keluarga? Atau kamu mahasiswa kedokteran?”
Belum sempat dia menjawab, seorang anak perempuan tiba-tiba menangis. “Erika!” teriak pria itu, dan dia langsung bergegas menghampiri anak-anak yang sekarang sudah mengelilingi Erika. Pria itu menggendong Erika dan berlari membawanya masuk ke dalam rumah sakit, meninggalkanku terpaku di bangku taman. Tanpa tahu apa yang terjadi, atau siapa nama pria itu.
Esoknya pikiranku melayang ke pria itu, dan Erika. Aku penasaran, apa yang terjadi setelah itu? Bagaimana keadaan Erika? Apa mereka akan ada lagi di taman rumah sakit sore ini? Tiba-tiba kegiatan terapi bukan lagi hal yang kubenci. Malah aku menanti-nantikannya.
Sorenya setelah terapi, aku datang lagi ke taman belakang rumah sakit. Dan aku senang masih menemukan mereka. Alih-alih duduk di bangku taman, aku langsung bergegas menghampiri mereka yang tampaknya belum menyadari kedatanganku.
“Hai!” sapaku riang.
Pria itu tampak terkejut namun senang. “Hai! Kamu datang lagi?”
Aku mengangguk lalu langsung mengedarkan pandangan ke kumpulan anak-anak. Dia tampaknya menyadari dan mengerti apa yang sedang kucari.
“Erika hari ini tidak ikut” dia langsung menjelaskan dengan suara yang lebih dipelankan, agar anak-anak yang lain tidak mendengar. “Dia menderita leukimia, dan kemarin kadar trombositnya turun, sehingga perlu perawatan. Tampaknya dia terlalu banyak diluar” wajahnya tampak agak murung.
Aku yang menyadari perasaan bersalahnya, langsung menepuk bahunya—agak terlalu kencang—hingga dia mengerinyit. “Hei, nggak boleh cemberut. Kamu kan badutnya anak-anak, ayo buat mereka tertawa!”
Separuh kaget dan geli, dia pun tersenyum kembali. “Indra” katanya sambil menjulurkan tangan.
Aku pun menyambut tangannya dan menjabatnya, “Astri” Akhirnya kami pun berkenalan. Dan aku menghabiskan setengah jam berikutnya tertawa bersama Indra dan anak-anak lainnya.
Sejak saat itu, sikap dan perasaanku berubah drastis. Kesulitan-kesulitan akibat penyakitku tetap ada. Apalagi jika menyangkut akademik, dimana nilai-nilaiku baru terlihat mengalami penurunan. Bukan karena aku tidak cukup belajar, tapi lagi-lagi soal kemampuanku dalam menulis. Pembahasan laporanku jadi seadanya, jawaban kuis-kuisku tidak pernah selesai, begitu pula saat ujian essay. Hal ini kadang membuatku begitu sedih dan tertekan. Aku tidak mau mengemis keringanan pada dosen soal waktu atau penilaian. Aku tidak ingin diistimewakan untuk hal yang tidak kuinginkan, walaupun nilaiku menjadi ancamannya.
Tapi bertemu Indra dan anak-anak di rumah sakit membuatku berubah banyak. Aku tidak lagi merasa sendirian, bahkan kadang merasa beruntung dibandingkan orang lain dengan penyakit yang lebih berat. Kehadiran mereka membuatku menjadi lebih kuat menghadapi penyakitku, dan lebih dewasa dalam memandang hidupku.
“Menurutku, tidak ada orang yang lebih menghargai hidup dibanding orang-orang yang hampir kehilangannya” ujar Indra suatu sore, saat kami sedang duduk di bangku taman, mengawasi anak-anak bermain kucing dan tikus.
Pandanganku menerawang. Tampaknya tiba saatnya aku bercerita kepadanya soal penyakitku. Aku tidak khawatir akan pandangannya nanti. Bahkan, aku tidak berpikir dia akan melihatku seperti orang-orang kebanyakan.
“Aku sebenarnya bukan hanya menemani ibuku, tahu?” ujarku memulai.
“Aku tahu” sahutnya.
Aku berbalik memandangnya. “Kok bisa?!”
“Kamu jangan marah ya,” ujarnya cepat-cepat. “Aku kan pernah bilang, kenalanku seorang dokter disini, di bagian patologi. Jadi bukan soal yang sulit”
Aku menggeleng pelan. “Aku tidak marah kok. Aku justru lega, tidak usah bercerita panjang lebar. Menghemat air minum”
Dia tersenyum. “Pasti berat ya? Apalagi kamu masih kuliah, masih aktif-aktifnya”
“Kemarin sih iya” sahutku.
“Jadi sekarang sudah nggak?”
“Masih juga. Kan sekarang aku juga masih kuliah” candaku. “Tapi sekarang aku bisa ketemu kamu sama anak-anak. Dan entah kenapa, kalau ingat kalian, segalanya jadi ringan. Nilai-nilaiku, dimarahin dosen, semuanya jadi nggak begitu masalah”
Lagi-lagi dia tersenyum, sekarang lebih lembut. “Aku senang kalau ternyata kami bisa membantu kamu. Bukan berarti kamu harus ketemu kita setiap hari sih, tapi setidaknya kami bisa mengajarimu sesuatu. Bisa memberi kamu mata tambahan, untuk melihat hidup dari sisi lain” dia menghela nafas. “Ayahku sering bilang, kalau kamu nggak bisa lari, bersyukurlah kamu punya sepatu. Aneh ya? Tapi entah kenapa, buatku kata-kata itu bisa memberi semangat”
Kini giliranku tersenyum. Sungguh, aku telah menemukan malaikatku di sini, di rumah sakit ini, di tempat di mana kukira kehidupanku hampir berakhir.
Malamnya, kata-kata Indra terus terngiang. Tapi bukan hanya kata-katanya. Tatapannya, senyumnya, suaranya, bahkan aroma tubuhnya yang berbau keringat campur aroma khas rumah sakit. Tiga minggu sudah kami menghabiskan waktu bersama selama satu jam atau bahkan hanya setengah jam.
Aku hanya tahu nama depannya, tapi aku seperti sudah betul-betul mengenal pribadinya yang hangat, lucu, periang, dewasa, dan luar biasa bijaksana. Dia selalu menjadi orang pertama yang terbersit di benakku saat aku sedang dalam masa-masa sulit atau saat aku hanya butuh teman mengobrol.
Dan aku sadar, dia bukan lagi hanya seorang asing yang kutemui di rumah sakit. Dia telah menjadi teman, sahabat, tempatku bersandar dan alasanku bertahan hari demi hari. Dia telah menjadi begitu penting bagiku tanpa aku menyadarinya. Dan sekarang, begitu menyadari perasaanku, aku menjadi takut. Takut hubungan ini hanya ada selama aku menjalani terapi—yang hanya berlangsung kurang lebih seminggu lagi.
Untuk mencegah hal itu, untuk meyakinkanku bahwa hubungan ini benar-benar ada, bahwa aku tidak akan kehilangan dia walaupun sesi terapiku berakhir, aku pun memutuskan untuk mengatakan yang sejujurnya mengenai perasaanku padanya. Perasaan yang begitu kuat, sekaligus begitu rapuh. Tapi aku percaya dia akan mengerti, dan dia akan menerimaku apa adanya.
Keesokan harinya, aku tidak dapat menemukan kelompok kecil itu. Aku mencari ke seluruh taman, namun tetap tidak menemukannya. Aku bahkan menyuruh ibuku untuk pulang ke rumah duluan, takut pencarianku akan memakan waktu lama. Panik sekaligus putus asa, aku mulai menanyai perawat rumah sakit. Namun yang kudapatkan hanya gelengan kepala atau kata maaf, karena hanya sepotong nama ‘Indra’ yang dapat kujadikan petunjuk.
Tiba-tiba aku teringat akan kenalannya di bagian patologi. Aku langsung bergegas menuju bagian patologi, berharap dia akan lebih terkenal disana. Dan benarlah, perawat pertama yang kutanyai tidak memberiku gelengan kepala atau kata maaf. Tapi dia memandangku cemas dan menyuruhku menunggu di ruang tunggu.
Bingung dengan sikap dan tindakan perawat tersebut, aku pun hanya bisa menurut. Lega karena akhirnya pencarianku berakhir, sekarang aku malah cemas dan bingung. Kata-kata apa yang akan kukatakan padanya nanti? Apakah dia punya perasaan yang sama denganku? Atau jika tidak, masih bisakah kami berteman? Sungguh, aku hanya ingin berada di sisinya.
Namun alih-alih Indra, seorang dokter paruh baya menghampiriku dan berdiri di depanku. Sontak aku pun terbangun, dan dia langsung mengulurkan tangannya. “Saya Irfan, dokter bagian patologi yang menangani Indra”
Aku mengerinyitkan dahi, hingga tampaknya kedua alisku menyatu. “Menangani?”
Kini giliran dokter Irfan yang mengerinyitkan dahi, hingga beberapa detik kemudian ia tampak paham. “Mari ikut ke kantor saya”
Aku pun mengikutinya dan langsung duduk di seberang tempat duduknya. Ia mengeluarkan sebuah map berwarna kuning dengan label bertuliskan sebuah nama di atasnya. Arif Indra Prasetya. Dan dia pun duduk di kursinya, menghadapku.
“Dengan sangat menyesal saya harus mengatakan ini sendiri pada Anda” dia membuka kalimat dengan sangat formal. “Indra meninggal tadi malam, kecelakaan motor”
Aku langsung membekap mulutku. Berusaha menahan suara keterkejutan yang hendak keluar.
“Indra adalah pasien saya,” Dr. Irfan menjelaskan. “dia mengidap hemofili sejak kecil. Penyakit dimana darah sulit membeku. Penyakit ini adalah penyakit genetik, artinya bersifat diturunkan, dan belum ada obatnya hingga saat ini.
“Dia sebetulnya pasien rawat jalan. Tidak perlu sering check-up, hanya perawatan serius jika terjadi luka. Sejak kecil dia bercita-cita menjadi seorang pembalap. Namun tentu saja orang tuanya melarang. Dia harus menghindari kegiatan-kegiatan yang dapat membahayakan fisik, apalagi balapan yang sangat rawan sekali kecelakaan. Jadi sebagai gantinya, dia kuliah jurusan teknik mesin. Dia selalu menghabiskan waktunya disini sepulang kerja, bermain dengan pasien anak-anak”
Dr. Irfan berhenti sebentar. Dia menyilangkan jemarinya menopang dagu kemudian memandangku yang masih membeku dalam posisi yang sama.
“Dia bercerita tentangmu. Bagaimana kamu berubah perlahan-lahan dalam menyikapi hidup, terutama soal penyakitmu. Denganmu, dia merasa dibutuhkan. Sebaliknya, kamu membuatnya merasa lebih hidup, lebih berani untuk mencoba hal-hal baru. Tapi di situlah puncak masalahnya, semalam dia mencoba menaiki motor tua milik ayahnya, sebelum akhirnya menabrak pohon hingga terjatuh.
“Dia sempat berjalan pulang ke rumah. Tapi selain luka di tubuh, dia juga mengalami luka di kepala. Dia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit ini akibat kehabisan darah”
Air mataku langsung meleleh. Suaraku tak lagi dapat tertahan, dan aku langsung menangis terisak, hingga nafasku terasa sesak.
Dr. Irfan bangkit menghampiriku dan berlutut di depanku, menggenggam tanganku yang gemetar. Dia bicara dengan suara yang agak keras, berusaha melawan isak tangisku. “Dia sempat bilang padaku, betapa kamu berarti untuknya. Tapi dia tidak bisa mengatakannya sebelum dia berani menghadapi mimpinya sendiri”
Aku menggeleng-gelengkan kepala sedih. Tidak sanggup lagi mendengar cerita tentangnya. Tidak sanggup lagi membayangkan apa telah kuakibatkan padanya.
Dr. Irfan menggenggam tanganku lebih erat. “Astri, saya harap kamu tidak menyalahkan diri. Saya malah ingin berterima kasih padamu. Saya pribadi tidak pernah melihat Indra yang begitu mencintai hidup, begitu penuh syukur, dan begitu bersemangat” Kemudian dia melepaskan genggamannya dan berdiri. “Saya akan meninggalkan kamu sebentar” Dan dia pun keluar dari ruangan. Meninggalkanku yang masih terisak-isak sedih, meluapkan semua kesedihan, penyesalan, dan rasa kehilangan yang begitu dalam.
Dia lah yang mengajariku menghadapi hidup dari sisi yang berbeda. Dia lah yang mampu menggambar senyum dan mengundang tawa saat hidupku terasa hancur. Dia pula lah yang mengembalikan kehidupan dalam diriku.
Bagiku, kehilangan dirinya bagaikan badai yang tiba-tiba datang lagi, memporak-porandakan hidup yang sudah berhasil kutata. Tapi aku tidak akan jatuh atau bersedih. Dia telah meninggalkanku sebuah kenangan, dan pelajaran. Walaupun dia meninggalkanku selamanya, tapi bagiku dia tetap merupakan alasan untukku bertahan dan berjuang. Karena aku mencintainya. Dia adalah pelukis hidupku, dan aku mencintai kehidupan yang kami gambarkan bersama. 

...The End... 

Bayangan


Aku sibuk menelusuri garis-garis tepi sebuah gambar yang harus ku gunting dengan rapi, berusaha mengabaikan kehadiran cowok itu, yang juga tampak sibuk menggerakkan kuas di atas kanvas berukuran A2 yang kini penuh warna-warni yang tidak bisa kulihat jelas mengingat jarak kami yang lima meter jauhnya. Saat itu menunjukkan pukul 1 malam, satu hari sebelum acara besar BEM Fakultas Teknologi Pertanian IPB berlangsung. Semua anggota dekorasi telah jatuh berguguran, menyisakan kami berdua ditemani semilir angin diantara meja-meja panjang kantin sapta.
Aku sudah mengenalnya sejak lama. Kami selalu berada di tempat yang sama, namun tak pernah benar-benar bersentuhan. TK, SD, SMP, SMA, hingga jenjang kuliah pun kami habiskan di bawah atap yang sama. Namun sosoknya tetap asing bagiku. Kami bahkan tak pernah bertegur sapa, mungkin karena dunia kami yang begitu berbeda.
Aku meliriknya untuk yang kesekian kali. Mulutku gatal ingin berbicara, mengusir kantuk yang melanda. Namun hanya dia satu-satunya makhluk yang masih terjaga, dan tampak rasional untuk kuajak bicara. Hanya saja aku bingung harus mulai dari mana, apa yang akan kubicarakan, atau bagaimana tanggapannya. Terlalu banyak yang kupikirkan, sehingga menit demi menit tetap berlalu tanpa seorang pun dari kami membuka pembicaraan.
Jam tanganku menunjukkan pukul 2 pagi sebelum akhirnya dia angkat bicara. “Sudah selesai?”
Butuh waktu sepersekian detik bagiku untuk merasa kaget dan takjub, kemudian menelan bulat-bulat perasaan itu dan berusaha bersikap normal. “Belum” jawabku. “Agaknya masih cukup banyak”
“Belum ngantuk?” tanyanya lagi. Matanya masih terfokus sepenuhnya pada kanvas. Aku tidak akan menyadari dia yang bicara, jika aku tidak melihat gerak bibirnya langsung.
“Yah, mau gimana lagi. Resiko pekerjaan” sahutku berusaha tersenyum. Namun tidak sedikitpun ia memalingkan wajahnya dari kanvas. Bahkan melirikku pun tidak. Ada apa ini? Apakah ada dendam tersembunyi yang tidak kuketahui, hingga rasanya sulit sekali menciptakan atmosfir persahabatan di antara kami?
Tapi aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Aku bahkan tidak dapat mengingat situasi dimana kami saling berinteraksi, atau bahkan mencoba menyadari kehadiran masing-masing. Setidaknya itulah yang kurasakan.
Menit demi menit pun kembali berlalu dengan cepatnya, hingga menuju angka tiga. Mataku terasa berat dan pedas. Namun rasa penasaran dan semangat juangku tampaknya berhasil mengalahkan rasa kantukku.
Aku meliriknya lagi. Dia masih sama sibuknya seperti jam-jam sebelumnya. Masih di atas kanvas yang sama, dengan palet yang sama, dan tangan yang penuh warna-warni cat yang sama. “Kamu ngegambar apa sih?”
“Mimpi” jawabnya ringan, namun tampak serius.
Aku menggeser dudukku ke arahnya perlahan. “Apa sih? Pingin tahu dong! Jadi penasaran” kataku sambil berusaha mencairkan suasana.
Sontak dia pun menarik salah satu ujung kanvas menjauhiku, dan memberiku tatapan tajam. “Nanti saja”, tukasnya singkat.
Sedikit kesal, aku pun kembali ke posisi dudukku semula sambil mengerucutkan bibir. Menahan protes dan berharap ada yang bangun dan menggantikan posisiku. Sulit juga rasanya terjebak berjam-jam dengan seseorang yang sulit sekali kau pahami.
Anto, itu namanya. Salah satu mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan IPB, salah satu jurusan yang terkenal diisi oleh orang-orang kutu buku, individualis, dan egois. Stereotipe yang bertahun-tahun coba dihilangkan, namun tetap saja terus melekat. Maklum, kebanyakan kursinya diisi oleh calon-calon sarjana terbaik dengan IP setinggi langit, setinggi gengsi yang didapat.
Tapi aku selalu tahu, dia orang yang baik. Pria berwajah dingin dengan hati yang hangat. Aku berani berkata seperti itu karena aku telah mengenalnya sejak TK. Melihatnya berbagi buku dengan teman, memberikan kursi di bis pada tua renta, membawa pulang anak kucing yang ditinggalkan di jalan, bahkan mengajar anak-anak yang tidak mampu. Di fakultas pun, dia terkenal memiliki komitmen dan tanggung jawab yang tinggi dalam berbagai kepanitiaan dan organisasi.
“Kamu ingat deretan pohon pinus di belakang SMA dulu?” katanya tiba-tiba. Memecah kesunyian yang cukup lama menggantung di dalam jarak lima meter kami.
Aku yang mulai terbiasa dengan suaranya yang tiba-tiba muncul, menatapnya heran. Kaget karena dia tiba-tiba mengajukan topik tentang masa lalu dimana kami bahkan tidak pernah bertegur sapa. “Ya…” jawabku lambat-lambat.
“Masih ada atau tidak ya?”
“Sudah ada yang ditebangi sih, tapi beberapa masih berjejer kokoh, menghalangi sinar matahari langsung ke belakang sekolah” jawabku sambil tersenyum. Lucu rasanya mengenang masa lalu yang ternyata sama-sama kami miliki. Dari situ, obrolan pun mulai berjalan lancar. Kebanyakan tentang SMA kami, kegiatan-kegiatan kami dulu, guru-guru kami, dan banyak hal. Seakan-akan kami sedang mencoba menyatukan potongan-potongan gambar masa lalu, yang walaupun berbeda, namun terasa familiar. Dan saat itu pula aku baru menyadari, bahwa dia ternyata bisa jadi begitu menyenangkan.
Saat tanganku mulai terasa lelah dan mataku semakin berat, aku menghentikan pekerjaan dan meletakkan guntingku. Dia menyadarinya dan memandangku. “Sudah capek ya?” tanyanya lembut.
Aku pun hanya tersenyum. “Mau istirahat sebentar dulu. Capek juga berjam-jam memegang gunting”
“Oke, silahkan” dia mengangkat bahu dan meneruskan pekerjaannya.
“Aku dengar kamu dapat beasiswa ke Jepang ya To?”
Dia hanya tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya.
“Wah, selamat ya. Berapa lama?”
“Terima kasih” sahutnya. “Cuma dua tahun kok”
“Wah, lama ya? Minta oleh-oleh bunga sakura dong!” kataku.
“Hahaha…” Dia tertawa. Baru pertama kalinya aku melihatnya tertawa lepas. Bukan tertawa geli, tapi tertawa puas. Puas akan sesuatu yang aku pun tak mengerti. “Kamu aneh-aneh saja”
Aku mengerucutkan bibir pura-pura merajuk. “Ih, serius tahu!”
Dan dia pun lagi-lagi hanya membalas dengan seulas senyum.
“Senang ya, bisa belajar di negeri orang” cetusku sambil menerawang, merasa sedikit iri.
“Ya. Tapi yang paling penting, aku bisa mengejar mimpiku. Memperkaya ilmuku sambil berbagi pengalaman dengan orang-orang dari seluruh dunia”
“Wah, kamu membuatku semakin iri. Senang sekali punya otak encer seperti otakmu itu. Ke luar negeri saja dibayarin pemerintah”
Anto diam sejenak, tampak menimbang-nimbang perkataanku. “Menurutku pintar itu relatif, Rin. Semua orang bisa jadi pintar. Tapi punya kemauan yang kuat itu yang sulit. Kemauan untuk bangun berapa kalipun kamu terjatuh”
Aku terenyak oleh kata-katanya. Entah dia berkata seperti itu untuk menyemangatiku atau bukan, yang jelas kata-kata itu seperti menyerap ke hati.
Aku melirik jam tanganku. Waktu menunjukkan pukul setengah lima. Tampak gerakan-gerakan samar dari dalam ruang sekret BEM, tempat sebagian anak-anak tidur.
“Akhirnya selesai juga” Anto bergumam puas sambil menatap lekat ke arah kanvasnya.
Aku masih duduk diam tak bergeming dari posisiku semula. “Sekarang sudah boleh lihat?”
Dia memandangku aneh. Menatapku lekat-lekat tepat di mataku, dengan pandangan yang tidak dapat ku artikan. “Kamu kenapa sih?” tanyaku gusar. “Aku sudah boleh lihat belum?”
Dia mengangguk perlahan. “Tetap di tempatmu sekarang” ujarnya tampak serius, sekaligus gugup. “Aku akan menunjukkanmu mimpiku”
Dia pun mengangkat kanvas berukuran A2 tersebut dan membentangkannya menghadapku, menutupi wajahnya sepenuhnya.
Dan saat itu aku langsung tertegun. Aku tidak melihat kesuksesan ataupun cita-cita dirinya dalam gambar tersebut. Yang ada hanya sesosok punggung seorang gadis dengan latar belakang deretan pinus. Dalam gambar, matahari tampak menjulang tinggi, menghasilkan bayang-bayang panjang pepohonan dan sang gadis. Gambar itu, entah mengapa, membuat jantungku berdesir. Tak habisnya aku mengagumi keindahan, keanggunan, sekaligus kesepian yang tergambar dengan sempurna dalam lukisan tersebut.
“Ini… apa To?” tanyaku masih terkagum-kagum. Masih tak menyangka IPB menyembunyikan seniman sehebat dirinya.
“Ini kamu dalam mimpiku” jawabnya di balik kanvas.
Aku lebih tertegun lagi mendengar kata-katanya.
“Lima belas tahun kamu selalu menjadi matahariku, sehingga aku bisa menjadi bayanganmu. Tapi sinarmu telalu terang, hingga aku tak berani mendekat”
Dia terdiam sesaat. Kesunyian yang terasa begitu menyesakkan dadaku. Berbagai perasaan aneh muncul tiba-tiba. Dan aku pun kehilangan arah, akal dan pikiran, tak mampu memikirkan apa yang harus kukatakan atau lakukan.
“Tapi aku puas menjadi bayanganmu. Mengawasimu dari jauh. Mengagumi keindahanmu” dia pun menurunkan kanvas dan menatapku dalam-dalam, membuatku terpaku.
“Anto….” Hanya kata itu yang mampu kuucapkan.
“Arin, aku menyukaimu selama aku bisa mengingat. Mungkin aku memang terlalu pengecut. Tapi aku tidak ingin menyesal. Setidaknya sekarang, sebelum kepergianku, aku bisa melepaskanmu”
“Kenapa? Kenapa tidak mengatakannya dari awal?” tanyaku. Dadaku terasa sesak, penuh oleh berbagai perasaan asing.
Sosok-sosok tampak keluar dari pintu sekret BEM. Azan subuh pun berkumandang di latar belakang langit yang masih hitam.
Anto lagi-lagi tersenyum. “Kamu selamanya akan menjadi matahariku. Tapi aku tidak akan menjadi bayanganmu lagi” Dia mengulurkan tangannya. “Ini hadiah pertama dan terakhirku untukmu. Agar kau tau seperti apa dirimu di mataku”
Aku menyambut tangannya, sedikit gemetar. Bahagia sekaligus sedih. Dan rasanya, tahun-tahun yang kami lewati tanpa saling mengenal tampak tidak berarti lagi. Karena kini dia adalah seseorang yang sangat berarti bagiku. Dan ternyata begitu pun aku baginya selama ini.
“Aku berangkat besok. Kamu jaga diri ya?”
Aku mengangguk lemah. Berusaha menahan titik air mata yang tiba-tiba ada. Kami melepaskan tautan tangan kami saat teman-teman kami bergerak mendekat menghampiri. Dan beberapa saat kemudian kami sudah dikelilingi teman-teman yang mengagumi hasil kerja kami, semangat kami dalam menyelesaikan pekerjaan. Tapi untukku, malam itu sangat berarti. Karena itu adalah malam terakhirku dengannya.
Bayanganku…

...The End...

Dan Bagiku Hanya Kamu


Tak pernah aku menginginkan seseorang seperti ini seumur hidupku. Tidak seperti aku menginginkannya. Jemari panjangnya, rambut kakunya, hidung mancungnya, matanya yang kecil, semua hal tentang dirinya. Begitu pula perasaan ingin melindunginya. Entah kenapa pemikiran seperti ini berkali-kali melintas di benakku, dan semakin kuat saat kami sedang bersama.
“Nah, seperti ini! Jadinya bagus kan?” tanyanya tersenyum gembira. Lebih kepada dirinya sendiri sambil memandang lukisan di hadapannya. Hasil karyanya setelah dua jam bergelut dengan kanvas dan sejumlah cat minyak.
Aku menaikkan sebelah alisku dan mengerucutkan bibir. Sebisa mungkin menampakkan mimik menimbang-nimbang. “Hmm…lumayan. Sedikit lebih baik dibanding lukisan Finda. Kamu pernah ketemu Finda kan? Sepupuku yang berumur 10 tahun itu?”
“Jahaaaat!” serunya spontan sambil memukul-mukulku dengan kuasnya. Menciptakan noda-noda hijau di kemeja kerjaku yang berwarna kuning itu.
“Hei!Hei!” seruku berusaha menangkap tangannya, tak bisa menahan geli. Setelah berhasil menghentikannya, kami lalu tertawa lepas bersama. Sungguh, aku sangat menikmati saat-saat seperti ini.
“Sudah ah! Hari sudah semakin sore. Sudah saatnya aku pulang” katanya masih sambil tersenyum.
“Baguslah!” aku bergumam sambil meregangkan tubuh. “Lelah juga rasanya. Mengajarimu melukis hampir sama dengan mengajar bayi berjalan”
“Tahu. Mengerti pak guru, picasso abad 21” ledeknya gemas, menyentuh hidungku sambil tersenyum nakal. Dia tahu gerakan itu membuatku tergelitik dan wajahku memerah. Yang dia tidak tahu bahwa aku hanya bereaksi seperti ini terhadapnya.
Aku sedang mengelap tanganku yang masih belepotan cat pada sebuah lap basah saat dia berjalan ke pintu dan tiba-tiba membalikkan tubuh. “Ron, kamu jadi ikut kan besok?” tanyanya.
Aku menatapnya. Dan dia mengartikan tatapanku sebagai pertanyaan. “Itu lho, aku kan ingin memilih kue besok”
“Haruskah?” tanyaku balik.
Dia mengerinyitkan wajah, tampak jengkel. “Jadi kamu tega membiarkanku sendirian?”
Aku mencoba tersenyum wajar. “Baiklah”
Dan dia pun langsung tersenyum sumringah dan menghilang di balik pintu. Meninggalkanku dengan perasaan gusar, karena lagi-lagi tak dapat mengatakan hal yang paling ingin ku katakan.
Malamnya aku terus berdoa agar besok hujan badai sehingga tidak perlu ikut menemani Tissa memilih kue. Tapi lalu aku membayangkan wajah muramnya dan hatinya yang sedih, kemudian membatalkan doaku. Benar saja, esok paginya matahari bersinar cerah. Malah terik mendekati gersang, seakan seratus persen mendukungku untuk pergi. Yah, terima kasih Tuhan.
“Hmm…kamu lebih suka black forest atau tiramisu?” tanya Tissa saat kami sudah berada di salah satu toko bakeri yang cukup terkenal di Jakarta. Sama sekali tak melepaskan pandangan dari jajaran kue yang dipajang di etalase kaca.
“Dua-duanya enak” jawabku enggan. Entah dia menyadarinya atau tidak.
“Masa aku memilih dua-duanya?”
“Tidak apa-apa kan? Toh, tidak ada peraturannya”
Tissa memelototiku. “Yang benar saja! Serius dikit dong, Ron. Bantu aku”
Tidak. Aku sama sekali tidak ingin membantumu. Itu yang ada di pikiranku, namun tak dapat kuutarakan. Tak mungkin kuutarakan. “Tiramisu” jawabku singkat.
Tissa tersenyum senang dan merangkulku dengan sebelah tangannya. “Pilihan yang sangat bijak. Hahaha”, dia tertawa puas.
Beberapa saat kemudian Tissa sudah bercakap-cakap dengan pastrisian untuk menentukan bentuk, banyak tingkat, dan tulisan apa yang dia inginkan.
“Bagusnya sekarang kuliah sedang libur ya. Memang lebih asik jika ada yang menemani di saat-saat menentukan seperti ini”
“Yeah…” jawabku malas-malasan. Padahal menemaninya seperti ini merupakan hal terakhir di dunia yang ingin kulakukan.
Berikutnya kami pergi ke kedai kopi di mall yang sama. Saat pramusaji mendatangi meja kami, Tissa langsung mengambil daftar menu.
“Tolong dua gelas coffee chocolatta” pesanku.
“Hei…” protes Tissa.
Aku menaikkan sebelah alis. “Mau pesan yang lain?”
Dia pun tersenyum. “Tidak. Itu saja mbak” ujarnya. “Kenapa sih selalu kamu yang memesan?”
“Habis memang itu yang selalu kamu pesan kan? Jadi buat apa lihat menu lagi?” jawabku.
“Sok tahu” gumamnya mencibir.
“Coffee chocolatta, fettucini, hamburger, frozen yogurt dengan toping kiwi…” aku menyebut daftar makanan yang biasa dia pesan di beberapa kafe atau tempat makan tertentu. “Mau aku lanjutkan?”
Tissa tersenyum miring. “Iya, iya. Aku tahu kamu punya daya ingat yang bagus. Superb!”
Hanya segala tentangmu. Tambahku dalam hati.
“Ron, tahu nggak kenapa kamu aku ajak kesini?” tanya Tissa tiba-tiba sambil mengaduk-aduk minumannya dengan sebatang sedotan.
“Menemani kamu memilih kue kan?”
“Hmmm… ada lagi” katanya sambil tersenyum nakal.
Mendadak aku merasa berdebar melihat tingkahnya, ingin menepuk kepalanya dan mengacak-acak rambutnya seperti biasa, tapi aku sadar akan batasan kami sekarang.
Dia merogoh ke dalam tas selempangnya dan mengeluarkan sebuah buku. “Ini, buku kumpulan lukisan yang kamu inginkan” katanya sambil menyerahkan buku yang masih terbungkus plastik putih tersebut.
Aku terpana. Perasaanku meluap-luap dan senang bukan kepalang. Aku membuka bungkus plastik putihnya dan meraba sampul buku berwarna biru itu, terkesima. “Dimana kamu mendapatkannya?”
“Di kwitang” jawab Tissa dengan puas. “Aku jelajahi dari ujung ke ujung baru dapat. Hebat kan?”
Spontan, aku langsung menggenggam tangannya yang ramping itu dan menatap dalam ke matanya. “Terima kasih”
Ia tampak terkejut sesaat lalu tersenyum lembut. “Sama-sama”
Dan aku mencintai caranya mendukungku dalam setiap hal yang aku lakukan.
Aku sedang sibuk melukis keesokan harinya, sebelum terdengar ketukan di pintu ruang kerjaku. “Permisi. Apa ada Pak Roni Ariyanto, mahasiswa yang berbakat melukis itu?” tanya Tissa memasang wajah lucu sambil melongokan kepala ke dalam ruangan.
Aku meliriknya pura-pura tidak peduli. “Tidak ada”, sahutku sambil melanjutkan pekerjaanku.
“Lalu siapa yang bicara?” tanyanya lagi.
“Hantu” jawabku.
Dia pun akhirnya masuk dengan wajah cemberut. “Dasar pelukis yang tidak punya selera humor”
“Ada apa?’ tanyaku.
“Sejak kapan aku perlu alasan untuk menemuimu?” tanyanya balik. Aku membisu. Sungguh ironi, padahal aku perlu mencari sejuta alasan untuk menemuimu selain kenyataan bahwa aku merindukanmu.
“Ardi mengajak kita nonton nanti malam. Mau kan?” jelas Tissa yang kini berdiri di belakang kanvas, di hadapanku.
Aku menghentikan gerakan kuasku beberapa saat, sebelum akhirnya melanjutkan dengan warna ungu. “Nonton apa?”
“Nonton film drama. Nggak seru ya? Yah, kamu tahu sendirilah seleranya” Tissa tersenyum lembut, sedikit menerawang. Tiba-tiba aku tahu apa yang dipikirkannya. “Tapi dia yang traktir lho!” imbuhnya dengan nada seperti sedang promosi.
“Lihat nanti ya” kataku.
“Ah! Nggak bisa! Pokoknya kamu harus ikut, atau tidak jadi sama sekali”, katanya galak.
Aku merasa sedikit aneh. Padahal sudah berapa kali aku tidak menyertai mereka bersenang-senang. Ah, tak terhitung rasanya. “Baiklah” jawabku singkat.
Lagi-lagi dia tersenyum sumringah, dan lagi-lagi aku merasa melayang melihatnya. “Kalau begitu nanti ketemu disana ya jam 7 malam” dan dia pun pergi. Setelah itu, aku kehilangan mood untuk melanjutkan melukis dan memilih untuk pulang ke rumahku yang tidak jauh letaknya dengan bengkel lukis.
Jam dinding menunjukkan pukul 17.30 saat aku selesai mandi. Aku membuka lemari dan mencoba memilih-milih baju. Malas rasanya. Lalu aku beralih memandang keluar jendela dan melihat bibi yang sedang menyapu halaman. Aku pun memutuskan untuk membantu bibi barang setengah jam.
Ketika sudah pukul 18.00 dan warna langit berubah jingga, aku masuk ke rumah dan menemukan ayahku sedang menonton siaran olahraga. Aku pun memutuskan untuk ikut menonton. Pukul 18.15, 18.30, 18.45, dan jarum jam terus bergerak. Aku bangkit menuju kamar. Di kamar aku langsung menjatuhkan diri di atas tempat tidur, menutup wajahku dengan sebelah lengan sambil memaki diriku sendiri. Bodoh, mengapa aku begitu lemah?
Pukul 19.10, handphone ku berdering. Caller ID menunjukkan telepon itu berasal dari Ardi. Aku ragu sejenak sebelum akhirnya menerimanya. “Halo?”
“Kamu dimana?” terdengar suara Ardi yang dalam dan berat dari seberang.
“Di rumah” jawabku sambil memain-mainkan kuku.
“Kenapa belum datang? Filmnya sebentar lagi mulai” terdengar suara Ardi yang agak jengkel.
“Kalian nonton saja tanpa aku. Aku…agak tidak enak badan” imbuhku. Sungguh, aku merasa itu alasan yang sangat klasik sekaligus terdengar bodoh bahkan di telingaku sendiri.
Ardi mendesah berat. “Kenapa tidak bilang dari tadi? Benar-benar sakit?” tanyanya, kini nadanya terdengar sedikit prihatin.
Saat-saat seperti ini membuatku tersadar kalau dia benar-benar kakakku. “He’eh” jawabku enggan.
“Baiklah, istirahat saja”
“Maaf ya, jadi rugi tiket”
“Tidak apa. Sudah dulu ya”. Klik. Terdengar suara telepon yang ditutup di seberang.
Aku kembali meletakkan lenganku di atas wajah. Merasa lemah dan benar-benar sakit. Saat seperti ini, tidur tampak lebih baik daripada nanti memergoki kakakku pulang tengah malam dengan wajah berbinar-binar. Aku pun memaksakan diri terpejam.
Lima hari sudah aku tidak bertemu dengan Tissa sejak kejadian itu. Ardi sama sekali tidak mengatakan apa-apa mengenai Tissa. Tapi aku tahu kalau dia marah. Aku sudah terbiasa membaca perasaannya tanpa harus melihatnya. Ini efek samping jika kau mengenal seseorang terlalu dekat, bahkan sampai mencintainya.
Saat aku sedang melanjutkan lukisanku di ruang lukis, tiba-tiba datang sms dari Tissa. [Aku ingin bertemu. Apa kamu ada waktu hari ini?]
Aku ragu, berpikir sejenak. Tissa adalah tipe orang yang langsung mengutarakan perasaannya terutama jika sedang marah. Tapi sms yang dikirimkannya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahan.
[Nanti malam gimana?]
[Baiklah. Jam 7 malam di lapangan depan rumahku]
[Oke], balasku singkat mengakhiri percakapan.
Saat aku akan meletakkan handphone, terdengar dering sms lagi. [Harus datang.]. Kalimatnya yang terakhir terasa menyentil, dan dalam hati aku tahu aku harus menyiapkan kata maaf untuk tindakanku yang kemarin.
Aku datang setengah jam lebih awal dari waktu perjanjian. Malam itu udara dingin, nampaknya hujan sudah menggantung di awan. Aku duduk di salah satu bangku dan  merapatkan jaket sambil menikmati aroma udara lembab.
“Hei” terdengar sapaan lembut dari belakangku, membuatku menoleh. Tissa tampak mengenakan jaket berwarna hijau rumput yang cukup tebal. Ekspresi wajahnya sulit dibaca.
Aku menepuk sisi bangku di sebelahku dan Tissa pun duduk. Kami berdua menatap lurus ke depan, masing-masing tampak menunggu yang lain bicara. Tapi akhirnya dia yang mengalah.
Dia menyikut pinggangku pelan. “Kemarin kenapa tidak datang?”
“Aku tidak enak badan”, sahutku.
Tissa mendengus. “Alasan apa itu? Anak kecil tidak masuk sekolah karena tidak enak badan. Mau bolos les alasannya tidak enak badan. Tidak enak badan itu dilakukan untuk menghindari hal-hal yang harus dilakukan tapi tidak ingin dilakukan, tahu?”, tuturnya dengan jengkel.
Aku menatapnya, setengah geli dan setengah pasrah. “Maaf. Tapi waktu itu aku benar-benar sedang malas”, kataku dengan mimik mengaku. “Nah, sekarang aku jujur. Apa bisa kamu maklum?”
Tissa mendesah dengan berat. “Tinggal seminggu lagi, kau tahu?”
Ya. Aku tahu apa yang dia maksud. Dan aku menjawabnya dengan diam.
“Aku pikir, kemarin itu adalah hari terakhir kita bisa bersenang-senang, kau tahu? Yah, sebagai teman”
Aku masih terdiam. Tapi dadaku semakin sesak, aku semakin sulit bernafas. Rasanya aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Cukup, hentikan. Pintaku dalam hati.
Tissa merogoh saku jaketnya mengeluarkan sebuah botol kecil setangkai semanggi berdaun empat yang sudah diawetkan. “Ingat ini?” tanyanya. Dan aku tersenyum. Memandang botol itu, pikiranku terlempar jauh ke empat tahun silam, saat kami pertama kali bertemu.
Saat itu kami sama-sama baru masuk kuliah, sama-sama sedang diospek. Tapi hari itu hujan turun dengan deras dan aku lupa membawa payung. Aku yang sulit bergaul dan agak pendiam dengan wajah yang keras, belum memiliki teman. Padahal aku baru sembuh dari demam, dan jika ketahuan pulang hujan-hujanan, ibu pasti akan memarahiku habis-habisan. Tapi Tissa tiba-tiba datang menawarkan payung padaku. Dan bukan hanya itu, dia mengantarkanku sampai rumah. Hal yang kecil memang, tapi keesokannya aku memberikan tangkai semanggi berdaun empat yang sudah kukeringkan dan kumasukkan ke dalam botol kaca sebagai tanda terima kasih. Dan sejak saat itu kami berteman. Sifatnya yang periang dan terbuka seakan melengkapi diriku yang pendiam dan tertutup ini.
Kemudian dia merogoh kantungnya dan mengeluarkan botol kaca, kali ini sedikit lebih besar dari yang sebelumnya, tapi juga berisikan tangkai semanggi berdaun empat. “Akhirnya aku menemukannya, di belakang kampus. Tangkai semanggi berdaun empat. Aku tak pernah menyangka daun ini sangat sulit ditemukan ya?”
Dia lalu meletakkannya di tanganku. “Ini buatmu” katanya ringan. “Sekarang kita punya sepasang”
Aku menatapnya heran. “Untuk apa?”
“Berarti kita akan berteman selamanya”, tuturnya. “Apapun yang terjadi”
“Apapun yang terjadi”, gumamku mengulang perkataannya sambil memandang botol pemberiannya.
“Tadinya aku ingin memberikannya waktu kita nonton. Aku sangat kecewa kamu tidak jadi ikut” imbuhnya. “Tapi kamu sama sekali tidak menghubungiku. Aku melakukan semuanya sendiri, tahu? Memilih gaun, riasan, dekorasi, makanan, semuanya!”
Aku masih memandangnya sementara dia terus mengoceh.
“Aku benar-benar kehilangan kamu selama lima hari ini”, tuturnya sambil menggenggam tanganku lembut.
Tidak seperti aku kehilangan dirimu. Kataku dalam hati, yang lagi-lagi tidak dapat kuutarakan.
“Hmm…kalau begitu apa kita harus buat acara bertiga lagi? Nontonkah? Atau lebih baik piknik? Jalan-jalan?” tiba-tiba dia mencetuskan ide-ide yang membuatku mual.
“Tidak usahlah” sahutku enggan.
“Lho? Kenapa? Pasti akan lebih menyenangkan”
“Maaf, tapi aku sedang sibuk”, tolakku. Darahku mulai mendidih, jengkel terhadap ketidakpekaannya.
“Ayolah. Aku benar-benar merindukan saat kita bersenang-senang bertiga”, Tissa merajuk sambil memegang lenganku.
“Tissa…”, aku mendesah frustrasi.
“Ayolah, demi aku?”
Kata-kata terakhirnya membuatku gelap mata. Aku benar-benar jengkel sehingga tanpa sadar menyentakkan pegangannya dari lenganku. “Hentikan bersikap manja di depanku! Dan jangan bersikap seolah-olah kau mengerti tentangku, oke?!”
Tissa menatapku kaget dan tampak terluka. Dan detik berikutnya, aku melakukan sesuatu yang mungkin tidak akan kulakukan saat sadar, dan mungkin akan kusesali setelahnya. Aku menciumnya. Ya, aku menciumnya tepat di bibir. Hal yang seharusnya sejak dulu kulakukan. Sejak aku menyadari perasaanku jauh sebelum dia berkenalan dengan kakakku hingga akan menikah dengannya.
Tissa berdiri tak bergerak. Atau bergerak? Entahlah, aku tidak tahu. Aku memejamkan mataku, menikmati saat-saat terlarang itu sampai akhirnya melepaskannya. Dia tampak tertegun, kaget, bahkan mungkin hampir pingsan. Detik berikutnya hujan turun dengan lebat. Menyamarkan wajahnya dan, semoga, menyamarkan wajahku yang mungkin sudah tidak jelas bentuknya.
Detik berikutnya yang kutahu, aku berpaling meninggalkannya di tengah hujan lebat. Dengan sejumlah pertanyaan.
Hari-hari berikutnya terasa dua kali lebih buruk dari yang seharusnya. Aku dan Tissa sama sekali tidak berhubungan. Walaupun intensitas pertemuan kami meningkat seiring semakin dekat pernikahannya dengan Ardi, kami selalu berusaha menjaga jarak. Bahkan obrolan pun terasa singkat dan formal.
Ardi berulang kali berusaha menanyaiku, tapi aku hanya mengangkat bahu. Bukan tidak mau menjawab, tapi bingung akan menjawab apa. Entah tindakanku itu memberi kesadaran pada Tissa atau tidak, yang jelas akhir minggu ini mereka tetap akan menikah. Dan aku masih tetap menjadi pria pengecut yang hanya bisa berdiri di belakang layar.
Malam sebelum pernikahan berlangsung, Ardi mengajakku keluar berdua. Malam bujangan, katanya. Dan aku dengan sedikit enggan, terpaksa menuruti permintaan kakakku satu-satunya itu. Kami membeli beberapa botol root beer tanpa alkohol, bermaksud memenuhi diri kami dengan gas-gas CO2 hingga, kalau mungkin, terangkat keangkasa seperti balon.
Saat pikiran kami masing-masing melayang jauh, Ardi tiba-tiba memecah keheningan. “Maaf”, katanya tiba-tiba.
Aku mengerinyitkan dahi sambil menatapnya. “Kenapa? Karena menikah duluan?” Aku mencoba bergurau.
“Karena menikah dengan Tissa” sahutnya.
Aku mendengus, pura-pura geli. “Kenapa minta maaf? Aku bukan siapa-siapanya”
“Kamu temannya”, kata Ardi. Lalu kuperhatikan mimik wajahnya yang tampak sangat serius.
Kemudian aku mengibaskan sebelah tangan. “Lalu kenapa? Justru semakin dekat kan, dengan dia sebagai kakak iparku. Walau sebenarnya kami seumur, sih. Hahaha” tawaku hambar.
“Kamu temannya yang juga mencintai dia”
Aku tertegun. Memandangnya, lama.
Ardi balik memandangku. Sorot matanya benar-benar tampak merasa bersalah. “Maafkan aku karena terlalu egois”
“Kenapa…kapan?” hanya itu yang bisa aku ucapkan.
Tapi Ardi tampaknya mengerti apa yang ingin kuucapkan. Dia mengedikkan bahunya, “Entahlah. Beberapa bulan lalu pikiran ini muncul. Lalu semakin lama, kecurigaanku semakin besar. Sampai akhirnya aku melihat sikap kalian berdua, aku tahu pasti terjadi sesuatu. Aku sangat tidak ingin kalian menjadi jauh”
Aku memalingkan wajah, masih berusaha menyangkal. “Jangan sok tahu kamu. Aku sama sekali…”
“Aku melihat lukisanmu”, potongnya.
Darahku bergejolak. Bagiku lukisan itu sangat pribadi, dan dia tidak punya hak untuk melihatnya. Beberapa saat kemudian aku sudah mencengkeram kerah bajunya dan meninjunya tepat di wajah. Dia sempoyongan dan berusaha kembali berdiri tegak.
Tapi tatapannya sama sekali tidak menunjukkan kemarahan. “Roni, maafkan aku”. Walau dalam keadaan gelap, tapi aku dapat melihat setetes air mata di ujung matanya.
Aku memukulnya lagi, kali ini berturut-turut. Tiga kali. Dan dia sama sekali tidak membalas. Hatiku semakin sakit dan sesak. Seakan ada sebuah tangan besar yang mencengkeram jantungku dan mencegahnya bernafas. “Aaaargh!!!” aku berteriak dan berlari meninggalkan Ardi yang kini dalam posisi terlentang. Berlari semakin jauh ke dalam kegelapan.
Esok harinya, pesta berlangsung sangat meriah. Para undangan dari kedua belah pihak datang dengan pakaian terbaik mereka. Aku yang menginap di tempat temanku, datang dengan jas hasil meminjam karena belum sempat pulang ke rumah. Toh, aku pun tak berminat untuk tampil gaya hari ini. Apapun yang kupakai, mungkin tak dapat menutupi kekacauan hati yang tergambar jelas di wajahku.
Aku melewatkan akad nikah dan datang telat ke resepsi, dengan menonaktifkan handphone sebelumnya, tentu saja. Dan begitu memasuki aula, aku melihat Ardi dan Tissa dengan wajah bahagia mereka di atas pelaminan. Dalam hati aku memuji perias yang berhasil menghilangkan memar-memar di wajah kakak akibat hantamanku beberapa jam sebelumnya.
Saat yang dinantikan pun tiba. Saat untuk memberikan ucapan kepada mempelai dari orang-orang terdekat. Tak lama kemudian, namaku pun dipanggil.
“Dan selanjutnya, ucapan dari adik mempelai pria, Roni Aryanto”, kata MC memperkenalkan.
Aku pun bangkit sambil menatap ke sekeliling, mencoba mengabaikan pandangan dari Ardi dan Tissa.
“Pertama, saya ingin mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Semoga hidup bahagia selamanya”, ujarku memulai. “Saya mengenal Ardi sepanjang hidup saya. Saya mengenalnya dan menyayanginya, sehingga tahu betapa beruntungnya dia mendapatkan Tissa. Saya pasti akan merasa begitu” ujarku, dengan sikap sedikit melucu. Membuat beberapa undangan tertawa ringan.
“Tissa adalah wanita yang istimewa. Dia istimewa, karena tidak menyukai bunga. Dia istimewa, karena selalu tertidur saat kuliah kalkulus. Dan dia istimewa karena spontanitasnya. Tissa lebih menyukai reptil dibandingkan hewan berbulu. Dia menyukai kopi, tapi selalu memesan coffee chocolatta di setiap kafe. Dia tidak suka mi instan, tapi menyukai spagetti. Tapi yang lebih membuatnya istimewa, karena dia selalu membuat orang tersenyum dimana saja, kapan saja. Pikirannya selalu positif dan optimis. Dan dia hanya senang apabila orang disekitarnya juga senang. Semua orang menyukainya. Semua orang mencintainya. Saya mencintainya”
Aku terdiam sejenak, mengamati setetes air mata yang jatuh dari mata Tissa. Dan baru kusadari, keadaan ternyata sunyi senyap. Semua mata tampak mengamatiku dan menyimak tiap kata yang kuucapkan, walaupun hanya kami bertiga yang benar-benar mengerti.
“Ini adalah kado dariku untuk kalian. Untukmu, Sa”. Aku menepukkan tangan, memberi kode kepada seseorang yang telah kubayar, untuk menarik tirai dan memperlihatkan sebuah lukisan di salah satu dinding aula, yang mungkin tidak disadari para undangan sebelumnya.
Disana aku melukis Tissa memegang payung. Itu adalah gambar dirinya sesaat sebelum dia menawarkan payung padaku. Agar dia tahu, aku sudah memperhatikannya, bahkan sebelum dia memperhatikanku.
Tanpa kalimat penutup, aku pun meninggalkan panggung dan turun membaur bersama para undangan. Meninggalkan keramaian dan kembali ke tempat di mana aku seharusnya berada, ke bengkel lukisku.
Setelah melepaskan dasi dan melonggarkan kerah kemeja, handphone ku berbunyi. Sms dari Tissa. Isinya singkat, namun entah mengapa, terasa sangat berarti bagiku.
[Terima kasih…]
Dan aku pun tersenyum sambil menghela nafas lega. Lega karena akhirnya penantianku selesai. Lega karena akhirnya aku dapat melepaskannya.

...The End...