Aku sibuk menelusuri garis-garis tepi sebuah gambar yang harus ku gunting dengan rapi, berusaha mengabaikan kehadiran cowok itu, yang juga tampak sibuk menggerakkan kuas di atas kanvas berukuran A2 yang kini penuh warna-warni yang tidak bisa kulihat jelas mengingat jarak kami yang lima meter jauhnya. Saat itu menunjukkan pukul 1 malam, satu hari sebelum acara besar BEM Fakultas Teknologi Pertanian IPB berlangsung. Semua anggota dekorasi telah jatuh berguguran, menyisakan kami berdua ditemani semilir angin diantara meja-meja panjang kantin sapta.
Aku sudah mengenalnya sejak lama. Kami selalu berada di tempat yang sama, namun tak pernah benar-benar bersentuhan. TK, SD, SMP, SMA, hingga jenjang kuliah pun kami habiskan di bawah atap yang sama. Namun sosoknya tetap asing bagiku. Kami bahkan tak pernah bertegur sapa, mungkin karena dunia kami yang begitu berbeda.
Aku meliriknya untuk yang kesekian kali. Mulutku gatal ingin berbicara, mengusir kantuk yang melanda. Namun hanya dia satu-satunya makhluk yang masih terjaga, dan tampak rasional untuk kuajak bicara. Hanya saja aku bingung harus mulai dari mana, apa yang akan kubicarakan, atau bagaimana tanggapannya. Terlalu banyak yang kupikirkan, sehingga menit demi menit tetap berlalu tanpa seorang pun dari kami membuka pembicaraan.
Jam tanganku menunjukkan pukul 2 pagi sebelum akhirnya dia angkat bicara. “Sudah selesai?”
Butuh waktu sepersekian detik bagiku untuk merasa kaget dan takjub, kemudian menelan bulat-bulat perasaan itu dan berusaha bersikap normal. “Belum” jawabku. “Agaknya masih cukup banyak”
“Belum ngantuk?” tanyanya lagi. Matanya masih terfokus sepenuhnya pada kanvas. Aku tidak akan menyadari dia yang bicara, jika aku tidak melihat gerak bibirnya langsung.
“Yah, mau gimana lagi. Resiko pekerjaan” sahutku berusaha tersenyum. Namun tidak sedikitpun ia memalingkan wajahnya dari kanvas. Bahkan melirikku pun tidak. Ada apa ini? Apakah ada dendam tersembunyi yang tidak kuketahui, hingga rasanya sulit sekali menciptakan atmosfir persahabatan di antara kami?
Tapi aku sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Aku bahkan tidak dapat mengingat situasi dimana kami saling berinteraksi, atau bahkan mencoba menyadari kehadiran masing-masing. Setidaknya itulah yang kurasakan.
Menit demi menit pun kembali berlalu dengan cepatnya, hingga menuju angka tiga. Mataku terasa berat dan pedas. Namun rasa penasaran dan semangat juangku tampaknya berhasil mengalahkan rasa kantukku.
Aku meliriknya lagi. Dia masih sama sibuknya seperti jam-jam sebelumnya. Masih di atas kanvas yang sama, dengan palet yang sama, dan tangan yang penuh warna-warni cat yang sama. “Kamu ngegambar apa sih?”
“Mimpi” jawabnya ringan, namun tampak serius.
Aku menggeser dudukku ke arahnya perlahan. “Apa sih? Pingin tahu dong! Jadi penasaran” kataku sambil berusaha mencairkan suasana.
Sontak dia pun menarik salah satu ujung kanvas menjauhiku, dan memberiku tatapan tajam. “Nanti saja”, tukasnya singkat.
Sedikit kesal, aku pun kembali ke posisi dudukku semula sambil mengerucutkan bibir. Menahan protes dan berharap ada yang bangun dan menggantikan posisiku. Sulit juga rasanya terjebak berjam-jam dengan seseorang yang sulit sekali kau pahami.
Anto, itu namanya. Salah satu mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan IPB, salah satu jurusan yang terkenal diisi oleh orang-orang kutu buku, individualis, dan egois. Stereotipe yang bertahun-tahun coba dihilangkan, namun tetap saja terus melekat. Maklum, kebanyakan kursinya diisi oleh calon-calon sarjana terbaik dengan IP setinggi langit, setinggi gengsi yang didapat.
Tapi aku selalu tahu, dia orang yang baik. Pria berwajah dingin dengan hati yang hangat. Aku berani berkata seperti itu karena aku telah mengenalnya sejak TK. Melihatnya berbagi buku dengan teman, memberikan kursi di bis pada tua renta, membawa pulang anak kucing yang ditinggalkan di jalan, bahkan mengajar anak-anak yang tidak mampu. Di fakultas pun, dia terkenal memiliki komitmen dan tanggung jawab yang tinggi dalam berbagai kepanitiaan dan organisasi.
“Kamu ingat deretan pohon pinus di belakang SMA dulu?” katanya tiba-tiba. Memecah kesunyian yang cukup lama menggantung di dalam jarak lima meter kami.
Aku yang mulai terbiasa dengan suaranya yang tiba-tiba muncul, menatapnya heran. Kaget karena dia tiba-tiba mengajukan topik tentang masa lalu dimana kami bahkan tidak pernah bertegur sapa. “Ya…” jawabku lambat-lambat.
“Masih ada atau tidak ya?”
“Sudah ada yang ditebangi sih, tapi beberapa masih berjejer kokoh, menghalangi sinar matahari langsung ke belakang sekolah” jawabku sambil tersenyum. Lucu rasanya mengenang masa lalu yang ternyata sama-sama kami miliki. Dari situ, obrolan pun mulai berjalan lancar. Kebanyakan tentang SMA kami, kegiatan-kegiatan kami dulu, guru-guru kami, dan banyak hal. Seakan-akan kami sedang mencoba menyatukan potongan-potongan gambar masa lalu, yang walaupun berbeda, namun terasa familiar. Dan saat itu pula aku baru menyadari, bahwa dia ternyata bisa jadi begitu menyenangkan.
Saat tanganku mulai terasa lelah dan mataku semakin berat, aku menghentikan pekerjaan dan meletakkan guntingku. Dia menyadarinya dan memandangku. “Sudah capek ya?” tanyanya lembut.
Aku pun hanya tersenyum. “Mau istirahat sebentar dulu. Capek juga berjam-jam memegang gunting”
“Oke, silahkan” dia mengangkat bahu dan meneruskan pekerjaannya.
“Aku dengar kamu dapat beasiswa ke Jepang ya To?”
Dia hanya tersenyum sambil menaikkan kedua alisnya.
“Wah, selamat ya. Berapa lama?”
“Terima kasih” sahutnya. “Cuma dua tahun kok”
“Wah, lama ya? Minta oleh-oleh bunga sakura dong!” kataku.
“Hahaha…” Dia tertawa. Baru pertama kalinya aku melihatnya tertawa lepas. Bukan tertawa geli, tapi tertawa puas. Puas akan sesuatu yang aku pun tak mengerti. “Kamu aneh-aneh saja”
Aku mengerucutkan bibir pura-pura merajuk. “Ih, serius tahu!”
Dan dia pun lagi-lagi hanya membalas dengan seulas senyum.
“Senang ya, bisa belajar di negeri orang” cetusku sambil menerawang, merasa sedikit iri.
“Ya. Tapi yang paling penting, aku bisa mengejar mimpiku. Memperkaya ilmuku sambil berbagi pengalaman dengan orang-orang dari seluruh dunia”
“Wah, kamu membuatku semakin iri. Senang sekali punya otak encer seperti otakmu itu. Ke luar negeri saja dibayarin pemerintah”
Anto diam sejenak, tampak menimbang-nimbang perkataanku. “Menurutku pintar itu relatif, Rin. Semua orang bisa jadi pintar. Tapi punya kemauan yang kuat itu yang sulit. Kemauan untuk bangun berapa kalipun kamu terjatuh”
Aku terenyak oleh kata-katanya. Entah dia berkata seperti itu untuk menyemangatiku atau bukan, yang jelas kata-kata itu seperti menyerap ke hati.
Aku melirik jam tanganku. Waktu menunjukkan pukul setengah lima. Tampak gerakan-gerakan samar dari dalam ruang sekret BEM, tempat sebagian anak-anak tidur.
“Akhirnya selesai juga” Anto bergumam puas sambil menatap lekat ke arah kanvasnya.
Aku masih duduk diam tak bergeming dari posisiku semula. “Sekarang sudah boleh lihat?”
Dia memandangku aneh. Menatapku lekat-lekat tepat di mataku, dengan pandangan yang tidak dapat ku artikan. “Kamu kenapa sih?” tanyaku gusar. “Aku sudah boleh lihat belum?”
Dia mengangguk perlahan. “Tetap di tempatmu sekarang” ujarnya tampak serius, sekaligus gugup. “Aku akan menunjukkanmu mimpiku”
Dia pun mengangkat kanvas berukuran A2 tersebut dan membentangkannya menghadapku, menutupi wajahnya sepenuhnya.
Dan saat itu aku langsung tertegun. Aku tidak melihat kesuksesan ataupun cita-cita dirinya dalam gambar tersebut. Yang ada hanya sesosok punggung seorang gadis dengan latar belakang deretan pinus. Dalam gambar, matahari tampak menjulang tinggi, menghasilkan bayang-bayang panjang pepohonan dan sang gadis. Gambar itu, entah mengapa, membuat jantungku berdesir. Tak habisnya aku mengagumi keindahan, keanggunan, sekaligus kesepian yang tergambar dengan sempurna dalam lukisan tersebut.
“Ini… apa To?” tanyaku masih terkagum-kagum. Masih tak menyangka IPB menyembunyikan seniman sehebat dirinya.
“Ini kamu dalam mimpiku” jawabnya di balik kanvas.
Aku lebih tertegun lagi mendengar kata-katanya.
“Lima belas tahun kamu selalu menjadi matahariku, sehingga aku bisa menjadi bayanganmu. Tapi sinarmu telalu terang, hingga aku tak berani mendekat”
Dia terdiam sesaat. Kesunyian yang terasa begitu menyesakkan dadaku. Berbagai perasaan aneh muncul tiba-tiba. Dan aku pun kehilangan arah, akal dan pikiran, tak mampu memikirkan apa yang harus kukatakan atau lakukan.
“Tapi aku puas menjadi bayanganmu. Mengawasimu dari jauh. Mengagumi keindahanmu” dia pun menurunkan kanvas dan menatapku dalam-dalam, membuatku terpaku.
“Anto….” Hanya kata itu yang mampu kuucapkan.
“Arin, aku menyukaimu selama aku bisa mengingat. Mungkin aku memang terlalu pengecut. Tapi aku tidak ingin menyesal. Setidaknya sekarang, sebelum kepergianku, aku bisa melepaskanmu”
“Kenapa? Kenapa tidak mengatakannya dari awal?” tanyaku. Dadaku terasa sesak, penuh oleh berbagai perasaan asing.
Sosok-sosok tampak keluar dari pintu sekret BEM. Azan subuh pun berkumandang di latar belakang langit yang masih hitam.
Anto lagi-lagi tersenyum. “Kamu selamanya akan menjadi matahariku. Tapi aku tidak akan menjadi bayanganmu lagi” Dia mengulurkan tangannya. “Ini hadiah pertama dan terakhirku untukmu. Agar kau tau seperti apa dirimu di mataku”
Aku menyambut tangannya, sedikit gemetar. Bahagia sekaligus sedih. Dan rasanya, tahun-tahun yang kami lewati tanpa saling mengenal tampak tidak berarti lagi. Karena kini dia adalah seseorang yang sangat berarti bagiku. Dan ternyata begitu pun aku baginya selama ini.
“Aku berangkat besok. Kamu jaga diri ya?”
Aku mengangguk lemah. Berusaha menahan titik air mata yang tiba-tiba ada. Kami melepaskan tautan tangan kami saat teman-teman kami bergerak mendekat menghampiri. Dan beberapa saat kemudian kami sudah dikelilingi teman-teman yang mengagumi hasil kerja kami, semangat kami dalam menyelesaikan pekerjaan. Tapi untukku, malam itu sangat berarti. Karena itu adalah malam terakhirku dengannya.
Bayanganku…
...The End...

2 komentar:
kereenn kaa.. :D
ci,,keren2 euy blognya,,gw mah ga bs da bikin cerpen teh,,pengen bisa tp nya males :((
Posting Komentar