Tak pernah aku menginginkan seseorang seperti ini seumur hidupku. Tidak seperti aku menginginkannya. Jemari panjangnya, rambut kakunya, hidung mancungnya, matanya yang kecil, semua hal tentang dirinya. Begitu pula perasaan ingin melindunginya. Entah kenapa pemikiran seperti ini berkali-kali melintas di benakku, dan semakin kuat saat kami sedang bersama.
“Nah, seperti ini! Jadinya bagus kan?” tanyanya tersenyum gembira. Lebih kepada dirinya sendiri sambil memandang lukisan di hadapannya. Hasil karyanya setelah dua jam bergelut dengan kanvas dan sejumlah cat minyak.
Aku menaikkan sebelah alisku dan mengerucutkan bibir. Sebisa mungkin menampakkan mimik menimbang-nimbang. “Hmm…lumayan. Sedikit lebih baik dibanding lukisan Finda. Kamu pernah ketemu Finda kan? Sepupuku yang berumur 10 tahun itu?”
“Jahaaaat!” serunya spontan sambil memukul-mukulku dengan kuasnya. Menciptakan noda-noda hijau di kemeja kerjaku yang berwarna kuning itu.
“Hei!Hei!” seruku berusaha menangkap tangannya, tak bisa menahan geli. Setelah berhasil menghentikannya, kami lalu tertawa lepas bersama. Sungguh, aku sangat menikmati saat-saat seperti ini.
“Sudah ah! Hari sudah semakin sore. Sudah saatnya aku pulang” katanya masih sambil tersenyum.
“Baguslah!” aku bergumam sambil meregangkan tubuh. “Lelah juga rasanya. Mengajarimu melukis hampir sama dengan mengajar bayi berjalan”
“Tahu. Mengerti pak guru, picasso abad 21” ledeknya gemas, menyentuh hidungku sambil tersenyum nakal. Dia tahu gerakan itu membuatku tergelitik dan wajahku memerah. Yang dia tidak tahu bahwa aku hanya bereaksi seperti ini terhadapnya.
Aku sedang mengelap tanganku yang masih belepotan cat pada sebuah lap basah saat dia berjalan ke pintu dan tiba-tiba membalikkan tubuh. “Ron, kamu jadi ikut kan besok?” tanyanya.
Aku menatapnya. Dan dia mengartikan tatapanku sebagai pertanyaan. “Itu lho, aku kan ingin memilih kue besok”
“Haruskah?” tanyaku balik.
Dia mengerinyitkan wajah, tampak jengkel. “Jadi kamu tega membiarkanku sendirian?”
Aku mencoba tersenyum wajar. “Baiklah”
Dan dia pun langsung tersenyum sumringah dan menghilang di balik pintu. Meninggalkanku dengan perasaan gusar, karena lagi-lagi tak dapat mengatakan hal yang paling ingin ku katakan.
Malamnya aku terus berdoa agar besok hujan badai sehingga tidak perlu ikut menemani Tissa memilih kue. Tapi lalu aku membayangkan wajah muramnya dan hatinya yang sedih, kemudian membatalkan doaku. Benar saja, esok paginya matahari bersinar cerah. Malah terik mendekati gersang, seakan seratus persen mendukungku untuk pergi. Yah, terima kasih Tuhan.
“Hmm…kamu lebih suka black forest atau tiramisu?” tanya Tissa saat kami sudah berada di salah satu toko bakeri yang cukup terkenal di Jakarta. Sama sekali tak melepaskan pandangan dari jajaran kue yang dipajang di etalase kaca.
“Dua-duanya enak” jawabku enggan. Entah dia menyadarinya atau tidak.
“Masa aku memilih dua-duanya?”
“Tidak apa-apa kan? Toh, tidak ada peraturannya”
Tissa memelototiku. “Yang benar saja! Serius dikit dong, Ron. Bantu aku”
Tidak. Aku sama sekali tidak ingin membantumu. Itu yang ada di pikiranku, namun tak dapat kuutarakan. Tak mungkin kuutarakan. “Tiramisu” jawabku singkat.
Tissa tersenyum senang dan merangkulku dengan sebelah tangannya. “Pilihan yang sangat bijak. Hahaha”, dia tertawa puas.
Beberapa saat kemudian Tissa sudah bercakap-cakap dengan pastrisian untuk menentukan bentuk, banyak tingkat, dan tulisan apa yang dia inginkan.
“Bagusnya sekarang kuliah sedang libur ya. Memang lebih asik jika ada yang menemani di saat-saat menentukan seperti ini”
“Yeah…” jawabku malas-malasan. Padahal menemaninya seperti ini merupakan hal terakhir di dunia yang ingin kulakukan.
Berikutnya kami pergi ke kedai kopi di mall yang sama. Saat pramusaji mendatangi meja kami, Tissa langsung mengambil daftar menu.
“Tolong dua gelas coffee chocolatta” pesanku.
“Hei…” protes Tissa.
Aku menaikkan sebelah alis. “Mau pesan yang lain?”
Dia pun tersenyum. “Tidak. Itu saja mbak” ujarnya. “Kenapa sih selalu kamu yang memesan?”
“Habis memang itu yang selalu kamu pesan kan? Jadi buat apa lihat menu lagi?” jawabku.
“Sok tahu” gumamnya mencibir.
“Coffee chocolatta, fettucini, hamburger, frozen yogurt dengan toping kiwi…” aku menyebut daftar makanan yang biasa dia pesan di beberapa kafe atau tempat makan tertentu. “Mau aku lanjutkan?”
Tissa tersenyum miring. “Iya, iya. Aku tahu kamu punya daya ingat yang bagus. Superb!”
Hanya segala tentangmu. Tambahku dalam hati.
“Ron, tahu nggak kenapa kamu aku ajak kesini?” tanya Tissa tiba-tiba sambil mengaduk-aduk minumannya dengan sebatang sedotan.
“Menemani kamu memilih kue kan?”
“Hmmm… ada lagi” katanya sambil tersenyum nakal.
Mendadak aku merasa berdebar melihat tingkahnya, ingin menepuk kepalanya dan mengacak-acak rambutnya seperti biasa, tapi aku sadar akan batasan kami sekarang.
Dia merogoh ke dalam tas selempangnya dan mengeluarkan sebuah buku. “Ini, buku kumpulan lukisan yang kamu inginkan” katanya sambil menyerahkan buku yang masih terbungkus plastik putih tersebut.
Aku terpana. Perasaanku meluap-luap dan senang bukan kepalang. Aku membuka bungkus plastik putihnya dan meraba sampul buku berwarna biru itu, terkesima. “Dimana kamu mendapatkannya?”
“Di kwitang” jawab Tissa dengan puas. “Aku jelajahi dari ujung ke ujung baru dapat. Hebat kan?”
Spontan, aku langsung menggenggam tangannya yang ramping itu dan menatap dalam ke matanya. “Terima kasih”
Ia tampak terkejut sesaat lalu tersenyum lembut. “Sama-sama”
Dan aku mencintai caranya mendukungku dalam setiap hal yang aku lakukan.
Aku sedang sibuk melukis keesokan harinya, sebelum terdengar ketukan di pintu ruang kerjaku. “Permisi. Apa ada Pak Roni Ariyanto, mahasiswa yang berbakat melukis itu?” tanya Tissa memasang wajah lucu sambil melongokan kepala ke dalam ruangan.
Aku meliriknya pura-pura tidak peduli. “Tidak ada”, sahutku sambil melanjutkan pekerjaanku.
“Lalu siapa yang bicara?” tanyanya lagi.
“Hantu” jawabku.
Dia pun akhirnya masuk dengan wajah cemberut. “Dasar pelukis yang tidak punya selera humor”
“Ada apa?’ tanyaku.
“Sejak kapan aku perlu alasan untuk menemuimu?” tanyanya balik. Aku membisu. Sungguh ironi, padahal aku perlu mencari sejuta alasan untuk menemuimu selain kenyataan bahwa aku merindukanmu.
“Ardi mengajak kita nonton nanti malam. Mau kan?” jelas Tissa yang kini berdiri di belakang kanvas, di hadapanku.
Aku menghentikan gerakan kuasku beberapa saat, sebelum akhirnya melanjutkan dengan warna ungu. “Nonton apa?”
“Nonton film drama. Nggak seru ya? Yah, kamu tahu sendirilah seleranya” Tissa tersenyum lembut, sedikit menerawang. Tiba-tiba aku tahu apa yang dipikirkannya. “Tapi dia yang traktir lho!” imbuhnya dengan nada seperti sedang promosi.
“Lihat nanti ya” kataku.
“Ah! Nggak bisa! Pokoknya kamu harus ikut, atau tidak jadi sama sekali”, katanya galak.
Aku merasa sedikit aneh. Padahal sudah berapa kali aku tidak menyertai mereka bersenang-senang. Ah, tak terhitung rasanya. “Baiklah” jawabku singkat.
Lagi-lagi dia tersenyum sumringah, dan lagi-lagi aku merasa melayang melihatnya. “Kalau begitu nanti ketemu disana ya jam 7 malam” dan dia pun pergi. Setelah itu, aku kehilangan mood untuk melanjutkan melukis dan memilih untuk pulang ke rumahku yang tidak jauh letaknya dengan bengkel lukis.
Jam dinding menunjukkan pukul 17.30 saat aku selesai mandi. Aku membuka lemari dan mencoba memilih-milih baju. Malas rasanya. Lalu aku beralih memandang keluar jendela dan melihat bibi yang sedang menyapu halaman. Aku pun memutuskan untuk membantu bibi barang setengah jam.
Ketika sudah pukul 18.00 dan warna langit berubah jingga, aku masuk ke rumah dan menemukan ayahku sedang menonton siaran olahraga. Aku pun memutuskan untuk ikut menonton. Pukul 18.15, 18.30, 18.45, dan jarum jam terus bergerak. Aku bangkit menuju kamar. Di kamar aku langsung menjatuhkan diri di atas tempat tidur, menutup wajahku dengan sebelah lengan sambil memaki diriku sendiri. Bodoh, mengapa aku begitu lemah?
Pukul 19.10, handphone ku berdering. Caller ID menunjukkan telepon itu berasal dari Ardi. Aku ragu sejenak sebelum akhirnya menerimanya. “Halo?”
“Kamu dimana?” terdengar suara Ardi yang dalam dan berat dari seberang.
“Di rumah” jawabku sambil memain-mainkan kuku.
“Kenapa belum datang? Filmnya sebentar lagi mulai” terdengar suara Ardi yang agak jengkel.
“Kalian nonton saja tanpa aku. Aku…agak tidak enak badan” imbuhku. Sungguh, aku merasa itu alasan yang sangat klasik sekaligus terdengar bodoh bahkan di telingaku sendiri.
Ardi mendesah berat. “Kenapa tidak bilang dari tadi? Benar-benar sakit?” tanyanya, kini nadanya terdengar sedikit prihatin.
Saat-saat seperti ini membuatku tersadar kalau dia benar-benar kakakku. “He’eh” jawabku enggan.
“Baiklah, istirahat saja”
“Maaf ya, jadi rugi tiket”
“Tidak apa. Sudah dulu ya”. Klik. Terdengar suara telepon yang ditutup di seberang.
Aku kembali meletakkan lenganku di atas wajah. Merasa lemah dan benar-benar sakit. Saat seperti ini, tidur tampak lebih baik daripada nanti memergoki kakakku pulang tengah malam dengan wajah berbinar-binar. Aku pun memaksakan diri terpejam.
Lima hari sudah aku tidak bertemu dengan Tissa sejak kejadian itu. Ardi sama sekali tidak mengatakan apa-apa mengenai Tissa. Tapi aku tahu kalau dia marah. Aku sudah terbiasa membaca perasaannya tanpa harus melihatnya. Ini efek samping jika kau mengenal seseorang terlalu dekat, bahkan sampai mencintainya.
Saat aku sedang melanjutkan lukisanku di ruang lukis, tiba-tiba datang sms dari Tissa. [Aku ingin bertemu. Apa kamu ada waktu hari ini?]
Aku ragu, berpikir sejenak. Tissa adalah tipe orang yang langsung mengutarakan perasaannya terutama jika sedang marah. Tapi sms yang dikirimkannya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahan.
[Nanti malam gimana?]
[Baiklah. Jam 7 malam di lapangan depan rumahku]
[Oke], balasku singkat mengakhiri percakapan.
Saat aku akan meletakkan handphone, terdengar dering sms lagi. [Harus datang.]. Kalimatnya yang terakhir terasa menyentil, dan dalam hati aku tahu aku harus menyiapkan kata maaf untuk tindakanku yang kemarin.
Aku datang setengah jam lebih awal dari waktu perjanjian. Malam itu udara dingin, nampaknya hujan sudah menggantung di awan. Aku duduk di salah satu bangku dan merapatkan jaket sambil menikmati aroma udara lembab.
“Hei” terdengar sapaan lembut dari belakangku, membuatku menoleh. Tissa tampak mengenakan jaket berwarna hijau rumput yang cukup tebal. Ekspresi wajahnya sulit dibaca.
Aku menepuk sisi bangku di sebelahku dan Tissa pun duduk. Kami berdua menatap lurus ke depan, masing-masing tampak menunggu yang lain bicara. Tapi akhirnya dia yang mengalah.
Dia menyikut pinggangku pelan. “Kemarin kenapa tidak datang?”
“Aku tidak enak badan”, sahutku.
Tissa mendengus. “Alasan apa itu? Anak kecil tidak masuk sekolah karena tidak enak badan. Mau bolos les alasannya tidak enak badan. Tidak enak badan itu dilakukan untuk menghindari hal-hal yang harus dilakukan tapi tidak ingin dilakukan, tahu?”, tuturnya dengan jengkel.
Aku menatapnya, setengah geli dan setengah pasrah. “Maaf. Tapi waktu itu aku benar-benar sedang malas”, kataku dengan mimik mengaku. “Nah, sekarang aku jujur. Apa bisa kamu maklum?”
Tissa mendesah dengan berat. “Tinggal seminggu lagi, kau tahu?”
Ya. Aku tahu apa yang dia maksud. Dan aku menjawabnya dengan diam.
“Aku pikir, kemarin itu adalah hari terakhir kita bisa bersenang-senang, kau tahu? Yah, sebagai teman”
Aku masih terdiam. Tapi dadaku semakin sesak, aku semakin sulit bernafas. Rasanya aku tahu kemana arah pembicaraan ini. Cukup, hentikan. Pintaku dalam hati.
Tissa merogoh saku jaketnya mengeluarkan sebuah botol kecil setangkai semanggi berdaun empat yang sudah diawetkan. “Ingat ini?” tanyanya. Dan aku tersenyum. Memandang botol itu, pikiranku terlempar jauh ke empat tahun silam, saat kami pertama kali bertemu.
Saat itu kami sama-sama baru masuk kuliah, sama-sama sedang diospek. Tapi hari itu hujan turun dengan deras dan aku lupa membawa payung. Aku yang sulit bergaul dan agak pendiam dengan wajah yang keras, belum memiliki teman. Padahal aku baru sembuh dari demam, dan jika ketahuan pulang hujan-hujanan, ibu pasti akan memarahiku habis-habisan. Tapi Tissa tiba-tiba datang menawarkan payung padaku. Dan bukan hanya itu, dia mengantarkanku sampai rumah. Hal yang kecil memang, tapi keesokannya aku memberikan tangkai semanggi berdaun empat yang sudah kukeringkan dan kumasukkan ke dalam botol kaca sebagai tanda terima kasih. Dan sejak saat itu kami berteman. Sifatnya yang periang dan terbuka seakan melengkapi diriku yang pendiam dan tertutup ini.
Kemudian dia merogoh kantungnya dan mengeluarkan botol kaca, kali ini sedikit lebih besar dari yang sebelumnya, tapi juga berisikan tangkai semanggi berdaun empat. “Akhirnya aku menemukannya, di belakang kampus. Tangkai semanggi berdaun empat. Aku tak pernah menyangka daun ini sangat sulit ditemukan ya?”
Dia lalu meletakkannya di tanganku. “Ini buatmu” katanya ringan. “Sekarang kita punya sepasang”
Aku menatapnya heran. “Untuk apa?”
“Berarti kita akan berteman selamanya”, tuturnya. “Apapun yang terjadi”
“Apapun yang terjadi”, gumamku mengulang perkataannya sambil memandang botol pemberiannya.
“Tadinya aku ingin memberikannya waktu kita nonton. Aku sangat kecewa kamu tidak jadi ikut” imbuhnya. “Tapi kamu sama sekali tidak menghubungiku. Aku melakukan semuanya sendiri, tahu? Memilih gaun, riasan, dekorasi, makanan, semuanya!”
Aku masih memandangnya sementara dia terus mengoceh.
“Aku benar-benar kehilangan kamu selama lima hari ini”, tuturnya sambil menggenggam tanganku lembut.
Tidak seperti aku kehilangan dirimu. Kataku dalam hati, yang lagi-lagi tidak dapat kuutarakan.
“Hmm…kalau begitu apa kita harus buat acara bertiga lagi? Nontonkah? Atau lebih baik piknik? Jalan-jalan?” tiba-tiba dia mencetuskan ide-ide yang membuatku mual.
“Tidak usahlah” sahutku enggan.
“Lho? Kenapa? Pasti akan lebih menyenangkan”
“Maaf, tapi aku sedang sibuk”, tolakku. Darahku mulai mendidih, jengkel terhadap ketidakpekaannya.
“Ayolah. Aku benar-benar merindukan saat kita bersenang-senang bertiga”, Tissa merajuk sambil memegang lenganku.
“Tissa…”, aku mendesah frustrasi.
“Ayolah, demi aku?”
Kata-kata terakhirnya membuatku gelap mata. Aku benar-benar jengkel sehingga tanpa sadar menyentakkan pegangannya dari lenganku. “Hentikan bersikap manja di depanku! Dan jangan bersikap seolah-olah kau mengerti tentangku, oke?!”
Tissa menatapku kaget dan tampak terluka. Dan detik berikutnya, aku melakukan sesuatu yang mungkin tidak akan kulakukan saat sadar, dan mungkin akan kusesali setelahnya. Aku menciumnya. Ya, aku menciumnya tepat di bibir. Hal yang seharusnya sejak dulu kulakukan. Sejak aku menyadari perasaanku jauh sebelum dia berkenalan dengan kakakku hingga akan menikah dengannya.
Tissa berdiri tak bergerak. Atau bergerak? Entahlah, aku tidak tahu. Aku memejamkan mataku, menikmati saat-saat terlarang itu sampai akhirnya melepaskannya. Dia tampak tertegun, kaget, bahkan mungkin hampir pingsan. Detik berikutnya hujan turun dengan lebat. Menyamarkan wajahnya dan, semoga, menyamarkan wajahku yang mungkin sudah tidak jelas bentuknya.
Detik berikutnya yang kutahu, aku berpaling meninggalkannya di tengah hujan lebat. Dengan sejumlah pertanyaan.
Hari-hari berikutnya terasa dua kali lebih buruk dari yang seharusnya. Aku dan Tissa sama sekali tidak berhubungan. Walaupun intensitas pertemuan kami meningkat seiring semakin dekat pernikahannya dengan Ardi, kami selalu berusaha menjaga jarak. Bahkan obrolan pun terasa singkat dan formal.
Ardi berulang kali berusaha menanyaiku, tapi aku hanya mengangkat bahu. Bukan tidak mau menjawab, tapi bingung akan menjawab apa. Entah tindakanku itu memberi kesadaran pada Tissa atau tidak, yang jelas akhir minggu ini mereka tetap akan menikah. Dan aku masih tetap menjadi pria pengecut yang hanya bisa berdiri di belakang layar.
Malam sebelum pernikahan berlangsung, Ardi mengajakku keluar berdua. Malam bujangan, katanya. Dan aku dengan sedikit enggan, terpaksa menuruti permintaan kakakku satu-satunya itu. Kami membeli beberapa botol root beer tanpa alkohol, bermaksud memenuhi diri kami dengan gas-gas CO2 hingga, kalau mungkin, terangkat keangkasa seperti balon.
Saat pikiran kami masing-masing melayang jauh, Ardi tiba-tiba memecah keheningan. “Maaf”, katanya tiba-tiba.
Aku mengerinyitkan dahi sambil menatapnya. “Kenapa? Karena menikah duluan?” Aku mencoba bergurau.
“Karena menikah dengan Tissa” sahutnya.
Aku mendengus, pura-pura geli. “Kenapa minta maaf? Aku bukan siapa-siapanya”
“Kamu temannya”, kata Ardi. Lalu kuperhatikan mimik wajahnya yang tampak sangat serius.
Kemudian aku mengibaskan sebelah tangan. “Lalu kenapa? Justru semakin dekat kan, dengan dia sebagai kakak iparku. Walau sebenarnya kami seumur, sih. Hahaha” tawaku hambar.
“Kamu temannya yang juga mencintai dia”
Aku tertegun. Memandangnya, lama.
Ardi balik memandangku. Sorot matanya benar-benar tampak merasa bersalah. “Maafkan aku karena terlalu egois”
“Kenapa…kapan?” hanya itu yang bisa aku ucapkan.
Tapi Ardi tampaknya mengerti apa yang ingin kuucapkan. Dia mengedikkan bahunya, “Entahlah. Beberapa bulan lalu pikiran ini muncul. Lalu semakin lama, kecurigaanku semakin besar. Sampai akhirnya aku melihat sikap kalian berdua, aku tahu pasti terjadi sesuatu. Aku sangat tidak ingin kalian menjadi jauh”
Aku memalingkan wajah, masih berusaha menyangkal. “Jangan sok tahu kamu. Aku sama sekali…”
“Aku melihat lukisanmu”, potongnya.
Darahku bergejolak. Bagiku lukisan itu sangat pribadi, dan dia tidak punya hak untuk melihatnya. Beberapa saat kemudian aku sudah mencengkeram kerah bajunya dan meninjunya tepat di wajah. Dia sempoyongan dan berusaha kembali berdiri tegak.
Tapi tatapannya sama sekali tidak menunjukkan kemarahan. “Roni, maafkan aku”. Walau dalam keadaan gelap, tapi aku dapat melihat setetes air mata di ujung matanya.
Aku memukulnya lagi, kali ini berturut-turut. Tiga kali. Dan dia sama sekali tidak membalas. Hatiku semakin sakit dan sesak. Seakan ada sebuah tangan besar yang mencengkeram jantungku dan mencegahnya bernafas. “Aaaargh!!!” aku berteriak dan berlari meninggalkan Ardi yang kini dalam posisi terlentang. Berlari semakin jauh ke dalam kegelapan.
Esok harinya, pesta berlangsung sangat meriah. Para undangan dari kedua belah pihak datang dengan pakaian terbaik mereka. Aku yang menginap di tempat temanku, datang dengan jas hasil meminjam karena belum sempat pulang ke rumah. Toh, aku pun tak berminat untuk tampil gaya hari ini. Apapun yang kupakai, mungkin tak dapat menutupi kekacauan hati yang tergambar jelas di wajahku.
Aku melewatkan akad nikah dan datang telat ke resepsi, dengan menonaktifkan handphone sebelumnya, tentu saja. Dan begitu memasuki aula, aku melihat Ardi dan Tissa dengan wajah bahagia mereka di atas pelaminan. Dalam hati aku memuji perias yang berhasil menghilangkan memar-memar di wajah kakak akibat hantamanku beberapa jam sebelumnya.
Saat yang dinantikan pun tiba. Saat untuk memberikan ucapan kepada mempelai dari orang-orang terdekat. Tak lama kemudian, namaku pun dipanggil.
“Dan selanjutnya, ucapan dari adik mempelai pria, Roni Aryanto”, kata MC memperkenalkan.
Aku pun bangkit sambil menatap ke sekeliling, mencoba mengabaikan pandangan dari Ardi dan Tissa.
“Pertama, saya ingin mengucapkan selamat kepada kedua mempelai. Semoga hidup bahagia selamanya”, ujarku memulai. “Saya mengenal Ardi sepanjang hidup saya. Saya mengenalnya dan menyayanginya, sehingga tahu betapa beruntungnya dia mendapatkan Tissa. Saya pasti akan merasa begitu” ujarku, dengan sikap sedikit melucu. Membuat beberapa undangan tertawa ringan.
“Tissa adalah wanita yang istimewa. Dia istimewa, karena tidak menyukai bunga. Dia istimewa, karena selalu tertidur saat kuliah kalkulus. Dan dia istimewa karena spontanitasnya. Tissa lebih menyukai reptil dibandingkan hewan berbulu. Dia menyukai kopi, tapi selalu memesan coffee chocolatta di setiap kafe. Dia tidak suka mi instan, tapi menyukai spagetti. Tapi yang lebih membuatnya istimewa, karena dia selalu membuat orang tersenyum dimana saja, kapan saja. Pikirannya selalu positif dan optimis. Dan dia hanya senang apabila orang disekitarnya juga senang. Semua orang menyukainya. Semua orang mencintainya. Saya mencintainya”
Aku terdiam sejenak, mengamati setetes air mata yang jatuh dari mata Tissa. Dan baru kusadari, keadaan ternyata sunyi senyap. Semua mata tampak mengamatiku dan menyimak tiap kata yang kuucapkan, walaupun hanya kami bertiga yang benar-benar mengerti.
“Ini adalah kado dariku untuk kalian. Untukmu, Sa”. Aku menepukkan tangan, memberi kode kepada seseorang yang telah kubayar, untuk menarik tirai dan memperlihatkan sebuah lukisan di salah satu dinding aula, yang mungkin tidak disadari para undangan sebelumnya.
Disana aku melukis Tissa memegang payung. Itu adalah gambar dirinya sesaat sebelum dia menawarkan payung padaku. Agar dia tahu, aku sudah memperhatikannya, bahkan sebelum dia memperhatikanku.
Tanpa kalimat penutup, aku pun meninggalkan panggung dan turun membaur bersama para undangan. Meninggalkan keramaian dan kembali ke tempat di mana aku seharusnya berada, ke bengkel lukisku.
Setelah melepaskan dasi dan melonggarkan kerah kemeja, handphone ku berbunyi. Sms dari Tissa. Isinya singkat, namun entah mengapa, terasa sangat berarti bagiku.
[Terima kasih…]
Dan aku pun tersenyum sambil menghela nafas lega. Lega karena akhirnya penantianku selesai. Lega karena akhirnya aku dapat melepaskannya.
...The End...

2 komentar:
hahaha.. ochiequwh.. aq kayak gy baca script sinetron.. :P coba km bikin lagi deh yg kyk gini chie.. trus km tawarin ke ph.. kan lumayan klo djadiin ftv or sinetron.. he.. btw good job girl.. ^,^
huoooo....emang aku pengen banget nyobain nulis script..hihi..tapi ini juga masih belajar2 des,jd masih agak jauh buat nulis script mah.tapi makasih ya..jadi makin semangat nulis.^^v
Posting Komentar