Kamis, 08 Maret 2012

Kisah Sebuah Cangkir

"Lihat, lihat!," seru seorang gadis di balik kaca etalase. Menunjuk-nunjuk bersemangat ke arahku. Aku pun tetap berdiri pongah. Kecantikanku memang tiada banding. Tinggi semampai, dengan ukiran abstrak dan warna menarik. Siapa yang tidak tergoda untuk mendekatiku. Menyentuhku. Menyecapku.

Lima tahun kami bersama. Kami memiliki pasangan masing-masing. Ia bersama pasangannya. Aku bersama pasanganku.

Setiap pagi kamu bersua. Ia bersenda gurau dengan pasangannya.Saling bersentuhan.Sementara kami hanya saling menatap. Mengagumi keindahan satu sama lain tanpa sapa. Menyadari kehadiran satu sama lain. Menikmati kebersamaan kami.

"Ah," pikirku. "Andai aku bisa bersuara." Benar. Jika kami bersuara, mungkin kami dapat saling memanggil, dapat saling melempar pujian, dapat saling sekedar menyapa.

Lalu kami bertemu lagi di sore hari. Kadang banyak cangkir lainnya. Tapi lebih sering, hanya kami berdua. Udara dipenuhi celoteh mereka berdua, sambil diselingi dentang sendok garpu dan piring. Pada situasi ini, kami berseberang-seberangan. Jarak ini merupakan jarak terjauh kami. Seringkali aku berpikir, "Alangkah baiknya jika aku memiliki sepasang kaki." Karena dengan begitu, aku bisa berlari menghampirinya, mengelilinginya, atau berdansa dengannya.

Dan jika malam semakin larut, kami menghabiskan waktu di depan sebuah layar besar berwarna, dengan orang-orang yang tampak lebih kecil di balik layar tersebut. Kadang kami bisa berada sangat dekat. Begitu dekat hingga aku berpikir, "Aku berharap aku memiliki sepasang tangan." Maka kami akan saling bersentuhan, saling meraba, atau bahkan berpelukan.

Tapi bahkan ada hari-hari panjang dimana kami tidak bertemu sama sekali. Aku di dalam rakku. Dia di dalam raknya. Terpisah jarak entah berapa jauh. Bahkan tidak dapat saling memandang. Apakah dia masih disana?

Kadang-kadang aku dapat mendengar keributan. Suara-suara yang tidak menyenangkan. Teriakan pada satu sama lain. Kata-kata yang sepertinya tidak pantas diucapkan diantara dua orang yang saling menyayangi. Dan setengah dirikupun bersyukur karena berada di dalam rakku.

Di satu pagi biasa, aku pun keluar dari rakku. Aku melihatnya. Aku melihat pria itu. Tapi aku tidak melihat cangkir itu. Setelah beberapa saat yang sunyi, keributan pun kembali terjadi. Lama. Hingga si pria keluar dari rumah. Dia pun masuk ke kamar. Kesibukan selanjutnya di rumah itu, aku dapat melihatnya. Karena aku masih disana. Terlupakan. Tanpa mereka. Tanpa pasanganku.

Entah berapa hari lewat hingga ia menyentuhku kembali. Membersihkanku, dan kembali ke rutinitas biasa. Tanpa pria itu. Tanpa cangkir itu.

Sore itu pun juga.

Malam itu pun juga.

Tapi lalu si pria datang. Dia membawa sebuah botol, dan bukan cangkir. Dan aku kembali merasa kehilangan. Sementara mereka berdua kembali bertengkar. Kali ini si pria menyentuhnya dengan kasar. Menamparnya. Keributan pun kembali terjadi.

Dan aku teringat harapan-harapanku terdahulu.

Dan aku bersyukur tidak ada yang terkabul.

Karena dengan begitu, walaupun kami tidak akan bertemu kembali, kami dapat mengenang satu sama lain dalam kebaikan.

Dalam kasih sayang, yang tidak perlu ditunjukkan dengan ucapan dan sentuhan.

Dalam sunyi pun, aku masih bisa mencintaimu.

***
S.V


1 komentar:

dzikri robbi mengatakan...

Cangkir..cangkir...manakah kopi yang menurutmu paling enak? Atau teh mungkin?

Tapi ini, kopiku yang aku seduh di dalam perutmu, yaitu berupa kopi yang hitam dan dicampur dengan air yang panas, juga gula secukupnya untuk supaya manis saja, dikarenakan dengan demikianlah aku bisa menikmati kopinya dengan enak.

Yaitu kopi dengan logo kemasan daripadanya sebelum aku buka dan tuangkan untukmu adalah berupa gambar sebuah oplet tua. Dan cangkir, aku beri kamu tahu, bahwa kopi ini sudah melegenda pada masanya dulu ibu dan nenekku juga suka menikmatinya bersama cangkir lain sepertimu pada masanya yang dulu, yaitu masa ketika aku masih kecil dan masih belum bisa berkata satu huruf "R", meski nyatanya sekarang ini juga belum bisa.

Tapi ini, juga masanya, yaitu ketika aku malas mencucimu terlebih dahulu. Mencuci cangkir, sebuah benda mati yang tentu tidak bisa mencuci dirinya sendiri. Padahal aku, manusia, mahluk hidup, yang bisa mencuci tubuhku sendiri dengan caranya aku mandi dan gosok gigi, tapi juga aku beri kamu tahu, cangkirku, bahwa aku belum mandi sudah lima hari ini.

Tentu itu bukan soal bagi Aristoteles untuk bedakan mana kamu, yaitu yang aku sebut kamu adalah cangkir, dan aku, yaitu yang aku sebut aku adalah manusia, sebagai beda antara benda mati dan mahluk hidup. Bahwa cangkir adalah benda mati yang tidak bisa mencintai dirinya sendiri, meski dia mempunyai dirinya sendiri yang bermanfaat untukku saat ini meminum kopi. Dan aku, mahluk hidup yang memberimu perasaan dengan caranya berterima kasih kepadamu telah menemaniku sekarang ini sambil menulis komentar ini, yaitu komentar yang seolah aku berkata kepadamu, cangkirku, padahal aku tahu kamu benda mati yang tidak bisa mendengarkanku meski kamu punya telinga yang suka aku "jewer", dikarenakan demikianlah fungsi telingamu itu.

Oh, maafkan aku tentu saja, juga teman dan saudara sebangsaku, manusia, yang suka menjewermu sebagai tanda bahwa aku juga mencintaimu balik dengan caranya aku memanfaatkan kegunaanmu, yaitu kegunaan yang dirancang oleh penciptamu, tukang cangkir.

*tidaktamat