Sabtu, 06 November 2010

Finding Happiness


Anarie adalah seorang gadis kecil berusia tak lebih dari 12 tahun. Ia hidup sendirian dalam sebuah gubuk tua, jauh di dalam hutan Fairistrie yang liar dan hampir tak terjamah oleh manusia. Anarie dibuang oleh orang tuanya sejak dia masih bayi, karena takut dan malu melihat penampilan Anarie kecil yang jelek dan menakutkan.
Sejak itu, Anarie diasuh oleh hewan-hewan liar di sekitarnya, seperti kelinci, beruang, dan rusa. Anarie menyayangi dan melindungi mereka seperti mereka menyayangi dan melindunginya. Anarie mendapatkan makanan dan minuman dari pepohonan dan tumbuh-tumbuhan yang hidup di sekitarnya.
Setiap malam, setelah menghidangkan makan malam, Anarie akan berpesta bersama teman-temannya. Mereka menari, menyanyi, dan tertawa bersama, sampai akhirnya mereka kelelahan dan tertidur dalam gubuk kecil yang terasa hangat karena kebersamaan mereka.
Namun, Anarie selalu merasa kesepian, karena hanya dia yang berbeda dari makhluk-makhluk lainnya dalam hutan tersebut. Sampai suatu hari, Pak Kelinci berlari-lari panik mencarinya. “Anarie,,tolong,,,tolong!” teriaknya panik.
“Ada apa Pak Kelinci?” Tanya Anarie bersimpuh di depan Pak Kelinci yang tampak terengah-engah setelah menerobos hutan.
“Tolong Anarie. Ada yang menangkap Bu Kelinci!” Pak Kelinci semakin histeris bersamaan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
“Tapi siapa Pak Kelinci? Siapa yang tega melakukan hal tersebut?”
“Aku tidak tahu Anarie. Tapi dia begitu besar, begitu mengerikan, dan dia…dia…”
“Dia apa?” Anarie merasa penasaran akan makhluk yang digambarkan oleh Pak Kelinci. Dua belas tahun sudah dia hidup dalam hutan yang liar tersebut. Namun tidak ada makhluk yang tampak sebegitu mengerikan dan jahat seperti yang ditemui Pak Kelinci.
“Dia…dia begitu mirip denganmu Anarie…”
Anarie tertegun. Benarkah ada makhluk lain yang seperti dirinya? “Di mana mereka Pak Kelinci?” Tanya Anarie didesak rasa penasaran yang begitu hebat.
Pak Kelinci menuntunnya menerobos sesemakan dan ranting-ranting. Anarie dan Pak Kelinci berlari dan melompat menghindari akar-akar pepohonan yang mencuat dari dalam tanah.
“Itu mereka,,,” tunjuk Pak Kelinci kearah sosok besar yang sedang berjalan sambil mengangkat hasil buruannya, yaitu Bu Kelinci.
Anarie terpesona melihat sosok itu. Dia tidak punya bulu seperti Pak Beruang, telinganya juga tidak panjang seperti Pak Kelinci. Sosok itupun berdiri di atas kedua kakinya yang kokoh, tidak seperti Pak Rusa.
Didorong rasa ingin tahu dan kegembiraan yang meluap-luap, Anarie memutuskan untuk mengikuti sosok itu diam-diam. Setelah cukup lama berjalan, Anarie pun meninggalkan wilayah hutan yang dikenalnya dan memasuki dunia baru yang sama sekali tidak pernah ia lihat sebelumnya. Sebuah desa.
Di sana banyak sekali sosok-sosok lainnya yang berjalan hilir mudik dengan kesibukannya masing-masing. Anarie terlalu kaget dengan perubahan suasana ini, dan terlalu takut dengan sosok-sosok asing di depannya, sehingga ia bersembunyi di antara barang-barang sambil terus mengikuti sosok pria yang ia kejar.
Pria tersebut masuk ke dalam sebuah bangunan. Anarie melihat bangunan itu seperti gubuknya di dalam hutan, namun jauh lebih besar, lebih rapi, dan lebih indah. Pria tersebut melepaskan Bu Kelinci ke dalam sebuah kandang dan meninggalkannya.
Anarie menuju kandang tersebut dan melepaskan Bu Kelinci. “Terima kasih Anarie” ujar Bu Kelinci yang masih tampak ketakutan.
“Kembalilah ke Fairistrie, Bu Kelinci. Di sana Pak Kelinci sedang menunggumu” Balas Anarie tersenyum senang. “Aku akan menyusulmu nanti”
Setelah Bu Kelinci pergi, Anarie berkeliling, masih sambil bersembunyi. Tapi kemudian dia melihat tiga sosok lain yang seukuran dengannya. Mereka nampak bermain dan tertawa bersama, seperti yang biasa Anarie dan teman-temannya lakukan setiap malam di gubuknya.
Terdorong perasaan yang sama, Anarie memberanikan diri untuk muncul dan menyapa mereka. “Hai,boleh aku ikut bermain?” Tanya Anarie malu-malu.
Ketiga anak itu tampak kaget. Tapi salah satunya berani maju dan memandang Anarie dari bawah sampai ke atas. Lalu menatap Anarie tepat di matanya sambil mengernyit. “Maaf ya, tapi kami tidak mau berteman dengan orang jelek sepertimu!” Ia menambahkan sebuah dorongan di bahu Anarie hingga Anarie jatuh terduduk.
Anarie kaget dan langsung bangkit. “Tapi kenapa? Kita kan sama!” protesnya.
Bocah laki-laki itu menarik baju Anarie dan menyeretnya ke jendela rumah terdekat. “Lihat? Kita tidak sama kan? Kau jelek dan bau!”
Terdengar tawa riuh rendah dari dua bocah lain di belakangnya. Anarie melihat bayangannya sendiri di jendela itu. Ya, mereka memang berbeda. Mata Anarie begitu kecil, hidungnya hampir seperti celah, dan bibirnya sangat tipis. Ditambah rambutnya yang acak-acakan dan tidak pernah disisir, penampilannya begitu mencolok dibanding manusia lain di sekitarnya.
Terluka, sedih, dan marah, Anarie berlari kembali menuju Fairistrie sambil menangis, mencoba mengacuhkan tatapan aneh orang-orang yang dilewatinya. Sesampainya di gubuk kecilnya, Anarie terus menangis tersedu-sedu. Tidak pernah ia merasa sesedih dan sekecewa ini seumur hidupnya.
Bu Beruang yang melihatnya, menghampirinya dan duduk di sebelahnya. “Ada apa Anarie sayang?” tanyanya lembut. “Ini pertama kalinya aku melihatmu menangis. Bukankah tadi kau menyelamatkan Bu Kelinci?”
Anarie yang masih terisak, mencoba menghapus air matanya. “Aku bertemu mereka, Bu Beruang. Aku bertemu manusia sepertiku. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa aku tidak sendirian. Bahwa aku tidak berbeda”
“Lalu kenapa kau menangis?” Tanya Bu Beruang lagi.
“Mereka menolakku. Mereka bilang aku berbeda. Mereka bilang, aku tidak seharusnya bersama mereka. Padahal selama ini aku merasa, pasti ada suatu tempat yang mau menerimaku. Tapi jika mereka menolakku, lalu siapa yang mau?” Anarie kembali tersedu.
“Kami mau, Anarie. Kami adalah keluargamu” hibur Bu Beruang, menepuk-nepuk kepala Anarie.
“Tapi kalian berbeda dengan mereka. Aku akan selalu jadi bagian yang lain. Aku tidak akan pernah sama denganmu, dengan Pak Kelinci, atau Bu Rusa”
Bu Beruang menghela nafas berat. “Jika itu maumu anakku, temuilah peri hutan. Dia pasti bisa mengabulkan permintaanmu”
Anarie berhenti terisak. Ada sedikit kelegaan dalam hatinya. Mungkin sedikit keajaiban akan membuat warga desa menerimanya. Maka pergilah ia menemui peri hutan.
Peri hutan tinggal di dalam pohon tertinggi dan terbesar yang menjadi jantung Fairistrie. Begitu melihat Anarie, Bu Peri langsung terbang menyambut ke arahnya.
“Ada apa Anarie? Setiap orang yang datang ke sini, pasti ingin meminta sesuatu” Tanya Bu Peri ramah.
“Benar Bu Peri” sahut Anarie sambil mengangguk lemah.
“Tapi sebelumnya, aku ingin memberitahumu. Aku bisa memberimu segalanya, kecuali tiga hal. Kesehatan, cinta, dan kebahagiaan. Itu, anakku, harus kau dapatkan sendiri”
“Baiklah Bu Peri. Aku hanya ingin meminta agar aku diberi kecantikan supaya warga desa mau menerimaku” pinta Anarie.
“Kecantikan hal yang mudah Anarie. Tapi semua hal ada harganya. Setiap permintaanmu yang kukabulkan, harus kau bayar”
“Dengan apa Bu Peri? Aku tidak punya harta benda. Yang kupunya hanya gubuk kecilku” ujar Anarie. Dia sedikit gugup, takut tidak bisa memberikan apa yang Bu Peri minta.
“Tidak. Untuk menyuburkan hutan ini, aku tidak memerlukan harta” kata Bu Peri menenangkan. “Yang kumau adalah sehari hidupmu”
Anarie berpikir. Dia masih dua belas tahun. Masih bertahun-tahun lagi hingga dia menjadi tua dan akhirnya mati. Kalau hanya sehari, mungkin tidak akan berpengaruh. “Baiklah” akhirnya ia memutuskan.
Setelah perjanjian itu, Bu Peri pun mengubah penampilan Anarie menjadi gadis cilik yang cantik jelita dan mempesona. Anarie yang gembira akan perubahan tersebut, langsung menuju ke desa. Di sana, anak-anak yang kemarin mengejeknya, hampir tidak bisa mengenalinya. Namun, ketika Anarie mengajak bermain, mereka langsung menurutinya. Bahkan, anak-anak lain yang melihat Anarie, langsung merasa tertarik dan ingin ikut bermain bersama.
Anarie puas dengan perubahan ini. Ia merasa mulai diterima. Maka, hampir setiap hari Anarie datang ke desa untuk bermain bersama teman-teman barunya. Begitu kembali ke gubuk, Anarie langsung tertidur karena kelelahan. Ia pun tidak sempat lagi bermain bersama kelinci, beruang, dan rusa.
Suatu hari, Andrew—salah satu teman baru Anarie—membawa sebuah permainan yang cukup rumit. Andrew berkali-kali mengajarkan Anarie cara memainkannya, tapi Anarie tetap tidak bisa. Permainan tersebut terlalu sulit, dan membuat otak bekerja ekstra, hal yang tidak pernah dilakukan Anarie sebelumnya.
Akhirnya Anarie pun tersisihkan. Apalagi, permainan tersebut sedang populer di desa, semua anak senang memainkannya. Maka, kehadiran Anarie pun semakin terlupakan.
Anarie yang merasa terbuang, kembali menemui Bu Peri. Kali ini ia meminta lima hari hidupnya. Anarie pun langsung mengabulkan, asal Bu Peri bisa membuatnya menjadi gadis cilik yang cerdas.
Setelah permintaannya dikabulkan, Anarie bisa memainkan permainan apapun dengan mudah bersama teman-temannya. Anarie pun kembali terlena dengan kehidupan di desa.
Lalu tibalah hari ulang tahun Andrew yang ke empat belas. Anarie yang biasa merayakan ulang tahun bersama kelinci, beruang, dan rusa di gubuknya, memberi Andrew hadiah berupa buah hutan yang sangat digemarinya.
“Ih…benda apa ini? Kenapa kau memberikan benda menjijikkan ini padaku?” protes Andrew marah.
“Tapi itu hadiah dariku” jelas Anarie. “Makanlah, rasanya sangat lezat”
“Kalau ini hadiah, lebih baik lain kali kau ucapkan selamat saja padaku” ujar Andrew. “Nih, kukembalikan” Andrew meletakkan buah hutan itu ke tangan Anarie dengan kasar.
“Andrew, ini hadiah dariku” ujar Sophie di depan Anarie yang masih bingung. Sophie memberikan sebuah miniatur mobil dari kayu yang sangat bagus. Pahatannya begitu halus dan mendetail.
“Terima kasih, Soph” ujar Andrew senang sambil memandang hadiahnya dengan tatapan memuja. Lalu mereka berdua pun terlibat dalam obrolan seru tanpa menyadari kehadiran Anarie.
Anarie merasa tersinggung. Ia pergi ke toko terdekat untuk membeli hadiah yang lebih hebat. Tapi ternyata, hadiah yang seperti Sophie berikan pada Andrew saja, sangat mahal sekali. Bagaimana dia mampu membeli hadiah yang lebih mahal untuk memenangkan persahabatan Andrew kembali?
Akhirnya ia kembali kepada Bu Peri untuk meminta kekayaan. Bu Peri menyanggupi dengan imbalan sepuluh hari hidup Anarie. Tanpa ragu, Anarie mengabulkan. Lalu terdapatlah tumpukan uang emas dalam gubuk kecil Anarie. Anarie lalu memakainya sebagian untuk membeli sepatu termahal untuk Andrew.
Melihat hadiah itu, Andrew senang sekali. Melihat Andrew senang dan menerimanya kembali, Anarie merasa sangat gembira. Mulai saat itu, Anarie selalu mengabulkan semua permintaan Andrew. Entah kenapa, Anarie merasa kebahagiaannya ada saat dia bersama Andrew.
Saat musim semi tiba, desa mengadakan lomba dansa untuk umum. Andrew langsung mengajak Sophie. Anarie merasa kecewa dan sedih. Ia mau memenangkan dansa musim semi bersama Andrew. Anarie merasa kemenangannya tidak akan berarti tanpa Andrew.
Ia lalu memetik buah beracun dari hutan dan memasukkannya ke dalam makanan Sophie hingga Sophie akhirnya jatuh sakit. Andrew kecewa melihat pasangan dansanya jatuh sakit.
“Bagaimana kalau aku yang menggantikannya?” ujar Anarie menawarkan.
Andrew menimbang sebentar. Sebetulnya dia ingin menang bersama Sophie. Tapi dari pada tidak ikut sama sekali, Andrew pun setuju dengan tawaran tersebut.
Mulailah Anarie dan Andrew berlatih. Anarie cukup ahli mengingat ia selalu berdansa dalam malam-malam menyenangkan di gubuknya dulu bersama teman-temannya. Mereka berdua pun melewati hari-hari yang menyenangkan bersama.
Namun, beberapa hari sebelum lomba dimulai, Sophie mendadak sembuh. Tapi ia tidak meminta untuk menjadi pasangan Andrew kembali. “Aku senang asal kalian menang” ujar Sophie ketika Anarie bertanya apakah ia ingin menjadi pasangan Andrew kembali. “Berusahalah!” tambahnya.
Tapi Andrew memaksa Sophie untuk berdansa bersama. “Maaf, Anarie. Aku ingin menang bersama Sophie” kata Andrew tulus. Lalu ia pun pergi meninggalkan Anarie.
Anarie merasa seperti tercabik. Hatinya sangat sakit melihat Andrew dan Sophie berlatih bersama. Anarie berpikir. Apa yang Sophie punya dan ia tidak punya? Dia bisa memberikan Andrew apapun yang ia minta. Dibanding Sophie pun, Anarie jauh lebih cantik, lebih kaya, dan lebih pintar—walaupun semua itu berkat Bu Peri. Anarie tidak tahu apa lagi yang harus ia pinta dari Bu Peri untuk memenangkan hati Andrew, karena Bu Peri pernah bilang bahwa ia tidak bisa mengabulkan cinta.
Anarie terduduk sendiri dalam gubuknya yang gelap dan tidak terurus. Gubuknya tidak lagi hangat seperti dulu. Angin yang menusuk tulang masuk melalui celah-celahnya. Keping uang emas berserakan di sana-sini. Teman-temannya tidak pernah lagi mengunjunginya, mungkin karena akhir-akhir ini ia juga jarang berada di gubuknya. Anarie tersedu semalaman.
Ia terbangun esok paginya sambil terbatuk. Semakin lama, semakin keras batuknya. Dan lama-kelamaan, seiring batuk, ia mengeluarkan darah dari mulutnya. Anarie panik dan cemas. Setiap tarikan nafas membuatnya merasa sesak dan menyakiti dadanya.
Anarie berdiri dengan limbung, dan terhuyung-huyung berjalan menuju tempat tinggal Bu Peri. Sambil terbatuk-batuk, Anarie memanggil Bu Peri. Ia menangis seiring penderitaan yang mengikutinya. Bercak darah menodai bajunya yang berwarna putih.
“Oh, Anarie malang. Tampaknya malaikat maut akan menjemputmu” ujar Bu Peri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sedih saat melihat keadaan Anarie yang bersimpuh di bawah pohonnya.
“Tapi kenapa? Kau hanya mengambil beberapa hari hidupku bukan?” Tanya Anarie sedih, tidak sanggup memikirkan kematian yang sebentar lagi datang.
“Oh, anakku, kau salah. Apa kau pikir kau akan hidup sampai berpuluh-puluh tahun ke depan?” tegur Bu Peri. “Sesungguhnya, anakku, tidak ada seorangpun yang tahu kapan kematian akan menjemput. Yang bisa dilakukan hanyalah, menggunakan hidupmu sebaik-baiknya”
Anarie makin tersedu. Dadanya terasa semakin sesak. Bukan karena penyakit yang dibawanya, tapi karena kini, dirinya dipenuhi perasaan bersalah. Dan, yang paling buruk, penyesalan.
“Apa yang harus kulakukan? Aku belum meminta maaf pada Pak Kelinci, Bu Beruang, dan teman-temanku lainnya…” Anarie jatuh terpuruk sambil terisak-isak. Nafasnya kini semakin berat. “Aku sudah menyakiti mereka”.
Bu Peri terbang turun dan mendarat di sisinya. “Tenang anakku. Mereka tidak membencimu. Karena, walaupun mereka berbeda darimu, tapi mereka seutuhnya adalah keluargamu…”
Anarie, yang kini sudah terbaring lemah, memejamkan matanya dan membiarkan air mata terakhir bergulir ke pipinya. Tangannya yang mengepal di letakkannya ke dadanya. Ia ingin menggenggam sedikit harapan bahwa, setidaknya, di akhir hayatnya, ia masih memiliki cinta tanpa syarat dari keluarganya. Dan Anarie pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Keluarga Beruang, Kelinci, Rusa, dan hewan-hewan lainnya sangat sedih atas kematian Anarie. Mereka menyesal karena tidak bisa menemani Anarie di saat-saat terakhirnya. Untuk menunjukkan kasih sayang yang mendalam, mereka mengubur Anarie di bukit di dalam hutan, agar Anarie bisa melihat pemandangan ke desa. Setiap hari mereka mengunjungi kuburan itu sambil membawakan buah hutan ke hadapannya. Hingga akhirnya di sekitar kuburan Anarie, tumbuh berbagai tumbuhan yang rimbun dan melindunginya dari panas matahari.
Dan di nisannya tertulis, “Di sini terbaring putri kami yang berharga, Anarie…”


...The End...

3 komentar:

de2s_Imoet mengatakan...

hmm.. pesan yang begitu mendalam.. kadang qt mank slalu gag pernah puas dgn apa yg qt miliki saat ini.. slalu aja pengennya lebih.. bagusssss beud deh dongengnyaaa.. good job.. i like it.. ^,^

Sara Virgizma mengatakan...

makasiiii...^^

shafirazhari mengatakan...

YAY NYAMPAH LAGI YAY.