Aku membuka mata pagi ini, dan langsung disambut oleh sinar matahari yang menerobos masuk lewat celah tirai kamarku. Aku menengadah menatap langit, mencoba menelan bulat-bulat perasaan berdebar yang begitu meluap-luap.
Hari ini adalah hari ulang tahunku, 4 April 2009. Umurku genap menginjak usia ke 22 sejak enam jam yang lalu. Hari ini seharusnya adalah hari yang biasa, seperti ke 21 ulang tahunku yang sudah-sudah.
Tapi sejak tadi malam handphoneku terus berdering, sms tak henti-hentinya masuk, berbagai ucapan selamat memenuhi inboxku. Tapi hanya satu ucapan yang bisa kuingat dengan jelas. Bahkan tak henti-hentinya berputar ulang dalam benakku. Tepat pukul 12 aku menerima ucapan untuk pertama kalinya. Tepat pukul 12, dia meneleponku, mengucapkan selamat diiringi berbagai doa. Aku masih bisa mendengar suaranya yang berat dan dalam di telingaku. Dan yang paling mengejutkan adalah ucapan sayang dan ungkapan bahwa aku telah membuatnya bahagia selama empat tahun kedekatan kami.
Telepon malam itu membuatku seakan ditumbuhi sayap. Tubuhku tiba-tiba menjadi ringan, dan segala sesuatu tampak benar di mataku. Aku tak henti-hentinya membayangkan wajah dan senyumannya yang hangat. Dan saat itu aku tahu, bahwa hari ini akan menjadi hari yang sangat berarti untukku.
Aku melirik jam dinding kamarku. Masih ada 12 jam sebelum pesta ulang tahunku dimulai. Aku bangkit dari tidurku dan menatap wajahku di cermin. Dan aku bisa merasakan rona kebahagiaan terpancar dari sana. Saat itu pula aku tahu, bahwa hari ini akan menjadi hari yang sangat berarti untukku.
“Astri, ayo turun!” terdengar suara ibu memanggilku dari bawah. “Ayo lekas sarapan. Kita kan harus mulai beres-beres” nadanya terdengar jengkel dan tidak sabaran.
Aku pun tersenyum dan beranjak dari tempat tidur. Bersiap-siap untuk memulai hari ini.
Dia mengintip dengan cemas ke dalam dompetnya yang hanya berisi selembar uang lima puluh ribu, lima lembar uang dua puluh ribu dan beberapa lembar ribuan, sambil mengutuki diri sendiri dalam hati karena tidak mampu menabung lebih banyak lagi.
Dia berdiri di depan gang yang dipenuhi oleh barisan toko kelontong. Jalanan pagi ini tampak rapat dan dipenuhi banyak orang. Belum lagi matahari pagi yang bersinar sangat terik. Dia pun menghapus peluh yang tak henti-hentinya mengalir di dahi. Matanya menyapu barisan toko kelontong, mencari satu barang yang telah sejak seminggu ini diincarnya namun belum ditemukan juga. Bukan karena barang tersebut antik atau apa, tapi semata-mata karena harus sesuai dengan keuangannya yang memprihatinkan.
“Permisi pak,” dia menyapa salah seorang bapak pemilik toko.
Bapak itu mendengar panggilan dan menatapnya dengan pandangan bertanya. “Ya?”
“Apa bapak menjual glove baseball?”
“Wah, nggak ada tuh mas! Coba toko yang diujung deh,” jawab bapak itu sambil mengerinyitkan dahi dan dengan bersemangat mengacungkan telunjuk lurus ke belakang barisan toko-toko kelontong. “Tapi jam segini biasanya sih belum buka mas. Coba agak lebih siang.”
Dia mengangguk sambil tersenyum sebagai tanda terima kasih, kemudian melangkahkan kaki mengikuti arahan bapak kelontong dengan bersemangat, menembus kerumunan orang-orang yang senasib dengannya, berusaha mendapatkan barang yang dicari dengan modal seadanya.
Dia melirik jam tangan. Jarum jam masih menunjuk angka sepuluh lebih lima belas menit, yang berarti masih ada waktu kurang lebih delapan jam untuk mempersiapkan semuanya, termasuk hatinya.
Empat tahun sudah dia mengenal Astri sebagai sahabat. Tapi entah sejak kapan hatinya berkata lain. Entah sejak kapan jantungnya tak berhenti berdetak tak karuan saat melihat senyumnya yang polos, kelakuannya yang terkadang bodoh, atau sifatnya yang manja sekaligus mandiri. Astri punya sejuta pesona yang tak bisa ditolak oleh pria mana pun, tapi dia justru tertarik pada kekurangannya, pada ketakutannya, dan pada mimpi-mimpinya. Dia mencintai Astri melebihi seorang sahabat.
Mataku menyapu ruang tamu yang sudah disulap menjadi begitu indah olehku dan ibu. Ada pita berwarna merah muda dan tirai putih yang menutupi dinding, lilin-lilin kecil yang berjejer di meja di sepanjang dinding, dan hiasan-hiasan lain yang membuat ruangan itu memancarkan kehangatan dan kesederhanaan.
Tapi yang paling kusukai adalah deretan foto hitam-putih ukuran 4R yang dibungkus oleh bingkai berwarna hitam. Deretan foto-foto ku dari kecil hingga dewasa, bersama orang tua, keluarga, dan teman.
Aku mengambil salah satu foto dan mengusapnya lembut. Di foto itu tergambar jelas wajah bahagiaku dan salah satu sahabatku saat dia terpilih menjadi King of the Year di kelas kami dua tahun lalu. Kami bersahabat sejak masuk kuliah, hingga sekarang. Empat tahun sudah terjalin persahabatan yang begitu kuat di antara kami. Kami berbagi cerita dan mimpi-mimpi. Kami bertengkar, menangis, dan tertawa bersama.
Tapi entah sejak kapan, dia menjadi satu-satunya pria bagiku. Tempatku melepas lelah, sedih, dan berbagi mimpi. Dia mampu menggambar senyumku, dan mengundang tawaku dengan sifatnya yang ringan. Terkadang kami hanya menghabiskan waktu berdua. Mengobrol, nonton, karaoke, atau bahkan merenung bersama. Aku merasa kami dapat mengisi satu sama lain tanpa perlu saling bicara. Dan pada saat kami berdua, aku mengenal tatapannya, tatapan yang begitu berbeda, langka, dan menyenangkan, karena aku merasa, tatapannya hanya ditujukan padaku.
“Tri, sudah jam 2 lho” ibu menepuk pundakku perlahan. Membuyarkan lamunan singkatku. “Kamu tidak mau siap-siap pergi ke salon?”
“Oh, iya bu. Sekarang ya?” aku balik bertanya. “Tapi ibu ikut menemani kan?” sambungku sedikit merajuk.
Ibu tersenyum dan menepuk puncak kepalaku dengan sayang. “Udah 22 kok kelakuan kamu masih seperti bocah?”
Aku hanya tersenyum nakal.
“Yasudah, ayo siap-siap sana” sahut ibuku.
Aku mengecup pipinya perlahan dan bergegas menuju kamar.
Pukul 4.15. Bus yang dinaikinya meluncur cepat menuju tempat tinggal Astri. Semoga tiba tepat pada waktunya, pintanya dalam hati. Dia mengeluarkan kotak yang telah terbungkus rapih dalam balutan kertas pink bergambar beruang kesukaan Astri. Dalam hati dia tak henti-hentinya bersyukur dapat menemukan hadiah yang dicari saat-saat terakhir.
Hampir semua orang mengenal Astri sebagai gadis yang periang. Dia selalu penuh tawa dan canda, seperti tidak pernah punya masalah dalam hidup. Tapi sahabatnya selalu tahu masalah-masalahnya. Dia juga menjadi salah satu tempat Astri berbagi. Dia tahu kesedihan dan mimpi-mimpinya. Baseball adalah salah satunya. Astri mungkin sudah menyukai baseball bahkan sebelum ia bisa berjalan. Namun ayahnya tidak suka melihatnya bermain baseball, seperti laki-laki katanya. Dan hal itu lah yang mencegahnya menggeluti salah satu hal yang menjadi impiannya. Satu hal yang dia kagumi dari seorang Astri bahwa dibalik kemandirian dan ketegasannya dalam menjalani hidup, dia hanyalah seorang gadis yang sederhana dan rendah hati, dan selalu menjadikan keluarga sebagai penuntunnya.
Dia hanya berharap, dengan memberikan glove baseball, Astri tidak perlu benar-benar melupakan mimpinya. Seperti Astri yang telah mengisi mimpi-mimpinya.
“Yudi?” panggil suara seorang wanita di belakangku.
Dia menoleh dan terkejut mendapati temannya, Risa, duduk persis di belakangnya. “Risa? Kamu sejak kapan naik bis ini?”
“Aku dari tadi duduk di belakang kamu. Tapi karena takut salah orang, jadi aku diam saja” ujar Risa sambil tersenyum ramah. “Eh, ternyata benar kamu”
“Kamu mau ke tempat Astri?” tanyanya.
“Iya. Kamu juga kan?” tanya Risa balik.
Dia pun mengangguk.
“Bagus deh, aku dapat teman barengan” imbuh Risa tersenyum senang.
Aku tak henti-hentinya memandangi diriku yang terpantul di cermin seukuran tubuh yang terdapat di lemari kamarku. Sungguh aku tak mampu mengenali pantulan diriku sendiri dalam balutan gaun berwarna merah muda dan riasan make up sederhana.
Aku merasa sedikit malu mengenakan apapun yang sedang kukenakan saat ini yang tidak pernah kupakai sebelumnya. Gaun, make up, dan perhiasan yang gemerlap. Tampak bayangan ibu yang menggeleng-gelengkan kepalanya di belakangku.
“Kamu sudah dewasa ya” ucapnya perlahan.
Sontak aku pun terharu. Aku membalikkan tubuh dan memeluk tubuhnya yang hangat, meletakkan kepalaku di bahunya sambil berusaha membendung air mata yang ingin keluar. Ibu pun mengelus punggungku pelan.
Saat ulang tahunku yang ke 17, semua orang bilang saat itulah aku memasuki pintu kedewasaan. Tapi aku tidak pernah merasa seperti itu. Saat itu aku masih merasa begitu pasti dan yakin akan langkahku selanjutnya. Aku akan meneruskan kuliah, dan semua masih terasa begitu wajar.
Tapi tidak sekarang. Tidak di usiaku yang ke 22 ini. Aku telah lulus kuliah dan bulan depan akan mulai bekerja. Tiba-tiba dunia terasa begitu luas, dan aku mulai takut. Aku mulai takut melangkah sendiri, terlepas oleh rasa nyaman yang menaungiku selama ini. Mulai saat ini, kehidupanku sebagai orang dewasa baru benar-benar dimulai.
Suasana pekarangan rumah Astri tampak temaram, hanya diterangi oleh cahaya lilin yang berjejer di atas meja-meja kecil dan panjang. Para tamu tampak tersenyum ceria dan saling bertegur sapa. Yudi menebarkan pandangan, mencari tanda-tanda kehadiran Andri, sahabatnya, sambil menyesali diri karena tidak mengajaknya datang bersama.
Sementara Risa yang datang bersamanya langsung melenggang pergi, menghampiri teman yang lain begitu sampai di rumah Astri. Merasa terasingkan di lingkungan yang penuh dengan orang-orang yang tidak dikenal, dia langsung menempatkan diri di salah satu bangku taman yang tampak diabaikan oleh orang-orang sekitar.
“Yudi” panggil seseorang di dekatnya, disusul dengan tepukan hangat yang mendarat di bahu.
“Andri?!” serunya setengah kaget. Dia langsung bangkit dan membalikkan tubuh. Andri menggenggam tangannya dan merangkulnya dengan sikap bersahabat.
“Sudah lama?” tanya Andri sambil tersenyum sumringah.
“Baru saja” sahut Yudi balas tersenyum. “Tumben kamu rapih sekali” pujinya, memandang Andri dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Ya iyalah. Kebetulan ada kostumnya” jawab Andri merendah. Padahal dia tahu, untuk ukuran orang yang selalu cuek dan apa adanya, Andri tampak sudah mempersiapkan semuanya untuk hari ini. Dia pun merasa agak minder dibuatnya.
“Kamu sudah beli hadiah untuk Astri?” tanya Andri.
Yudi menepuk-nepuk kotak yang sempat diletakkan di bangku sambil tersenyum puas sebagai jawaban.
“Apa itu?” tanya Andri lagi, tampak penasaran.
“Ada lah…” sahutnya sok misterius. “Kamu? Kok tidak membawa apa-apa?”
“Kadoku sih tidak usah dibawa-bawa, Di”
“Memang apa sih?” tanya Yudi, balik penasaran.
“Rahasia” balas Andri sambil tersenyum nakal. Dan mereka pun tertawa bersama.
Mendadak suasana jadi senyap. Terdengar latar belakang denting piano melantunkan lagu selamat ulang tahun. Andri menyikut perut Yudi dan mengedikkan kepala, mengajaknya mengikuti arah pandangnya.
Dia membalikkan tubuh, dan melihat Astri keluar dari pintu rumah. Dibalut gaun berwarna merah muda dan sedikit riasan make up yang tak pernah ia pakai sebelumnya. Kayak orang tua ah, masih terdengar di telinganya ketika Astri mengucapkan alasannya saat ditanya mengapa ia tidak pernah merias diri.
Tapi sungguh, malam ini dia melihat bidadari turun dari langit.
Menjadi pusat perhatian memang bukan sifatku. Jantungku terus berdebar keras. Malu dan takut pada orang-orang yang tak melepaskan pandangan dalam setiap langkahku, membuatku sedikit salah tingkah. Tapi aku berusaha sekeras mungkin untuk terus melangkah maju, sambil diam-diam mengedarkan pandangan berkeliling mencarinya.
Dan disanalah dia, di dekat bangku taman, berdiri tegak dan tidak melepaskan pandangannya dariku.
Aku melangkahkan kaki mendekati kue tingkat tiga yang telah disiapkan di atas sebuah meja putih panjang, dimana kedua orang tua ku berdiri menungguku sambil tersenyum.
Setibaku di tengah-tengah mereka, ibu berbicara lewat mikrofon, mengucapkan kalimat-kalimat pembuka yang telah ia persiapkan dalam catatan kecil. Ayahku menggenggam tanganku kuat dan lembut. Sampai akhirnya tiba waktuku untuk bicara, mengucapkan terima kasih dan segala syukur atas kehidupan yang telah kuterima hingga saat ini.
Saat memotong kue pun tiba. Aku memberikan potongan pertama untuk ayahku, lalu diikuti ibuku. Lalu satu persatu para tamu menghampiriku, meletakkan kado di meja putih tersebut kemudian menyalamiku sambil mengucapkan selamat yang terkadang diselingi canda.
Aku terus bertanya-tanya, kenapa Andri dan Yudi tidak juga datang menghampiriku. Apakah yang kuharapkan akan terjadi? Apakah pria yang kudambakan benar-benar akan memberiku sebuah hadiah yang paling kuinginkan di hari ulang tahunku?
Mulai terdengar denting pisau dan garpu saat para tamu menikmati hidangan. Ayah dan ibuku juga sudah pergi dari sisiku, berbaur bersama para hadirin. Aku masih terpaku, menatap Andri dan Yudi yang masih diam di tempat mereka semula.
Merasa sedikit kesal, aku menggerakkan tubuh hendak menghampiri mereka. Tapi tepat saat itu, dia langsung bergerak dengan cepat ke arahku—membuatku terpaku kaget—hingga jarak kami hanya setengah meter jauhnya.
Mata kami terkunci satu sama lain. Dan aku tampak mulai sulit bernafas dengan normal. Dia mengelus pipiku lembut.
“Selamat ulang tahun ya” ucapnya tersenyum hangat.
Aku masih terkesima. “Andri…” hanya itu yang mampu kuucapkan.
Dia merogohkan tangan ke dalam saku jasnya, dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah muda dan diikat oleh pita tebal berwarna merah. Dia melepaskan simpul pita tersebut dan memperlihatkan sebuah kalung dengan bandul berbentuk bintang dengan hiasan permata di tengahnya.
Aku terperangah menatap isi kotak tersebut. “Andri, apa ini?”
Dia menggaruk-garuk belakang kepalanya dengan kikuk. “Aku bingung mau memberimu hadiah apa,” dia menjelaskan. “tapi temanku bilang, beri hadiah yang paling menggambarkan kamu. Dan buatku kamu seperti bintang, penunjuk arahku dalam gelap”
Mulutku terkatup rapat. Begitu banyak kata yang ingin kuucapkan, perasaan yang ingin kuungkapkan, tapi tak tahu harus mulai dari mana.
“Aku mencintaimu As” ucapnya lembut. “Maukah kamu jadi bintang hidupku?”
Dan aku pun memeluknya erat.
Beberapa detik kemudian, aku dapat mendengar sorak sorai para tamu.
Tapi aku tak mampu lepas dari adegan itu, aku tak mampu melepaskan kebahagiaan yang selama ini kuharapkan dan akhirnya kudapatkan.
Adegan itu membuatnya beku. Melihat wajah Astri dan Andri yang memancarkan kebahagiaan, hatinya tiba-tiba terasa hampa, seakan berada di dalam sebuah kotak kaca, dimana dia hanyalah bagian terabaikan dari seluruh adegan tersebut.
Orang-orang tak henti bertepuk tangan, ada yang berteriak-teriak memberi selamat, ada pula yang bersiul-siul keras memekakkan telinga.
Dan dia masih berdiri terpaku. Tak dapat mempercayai apa yang baru saja dia dengar dan lihat. Kebahagiaan seakan tersedot hingga tulang sum-sumnya. Dia ingin segera pergi dari tempat itu. Ingin menganggap semua ini hanya mimpi, dan kejadian tersebut tidak benar-benar terjadi.
Tapi kakinya seakan terpaku ke tanah, dan dia tak bisa melepaskan tatapan dari mereka yang kini sudah melepaskan pelukan masing-masing dan berjalan ke lantai dansa yang telah dipersiapkan di tengah-tengah taman, memulai dansa waltz pertama mereka sebagai pasangan.
Setelah terjebak beberapa lama dalam posisi seperti itu, akhirnya dia mendapatkan tubuhnya kembali. Namun yang tertinggal hanyalah penyesalan dan kesedihan yang amat mendalam. Tidak ada kemarahan atas ketidaktahuannya tentang perasaan kedua sahabatnya, atau pun kekecewaan karena ternyata dia hanya menjadi orang ketiga bagi Astri dan Andri.
Dia mengeluarkan kartu yang tidak jadi digunakan, karena dia pikir akan lebih baik bila perasaannya diungkapkan langsung. Tapi sekarang, setelah perasaannya seakan menjadi tidak berarti, kartu itu terlihat sangat berguna.
Dia pun mengeluarkan pena, dan menulis dua baris kata, tulus dari hati,
“Selamat Ulang Tahun, Astri
Semoga Bahagia”
Sahabatmu,
Yudi
Yudi menyelipkan kartu tersebut di atas hadiahnya dan pergi meninggalkan kado itu di atas bangku yang masih diabaikan orang-orang sekitarnya. Berharap kado itu dapat menemukan jalannya sendiri, atau ditemukan oleh pemiliknya. Oleh sahabatnya yang sangat dia cintai…
...The End...

1 komentar:
AKU MALES BACA TAPI KOMEN AJA AH. HOHO. KECE KAK HOHO. MANTEP KAK. HOHO. #PADAHALBELOMBACA
Posting Komentar