Hari ini matahari bersinar dengan teriknya. BMG memperkirakan suhu hari ini mencapai 290C. Tapi bagiku, hari ini seperti ada badai dengan angin puyuh kencang, saat kudengar dokter mengucapkan kalimat-kalimat aneh yang berada di luar penalaranku. Satu hal yang dapat kutangkap dari perkataannya, bahwa tidak ada satu pun merupakan kabar baik bagiku.
“Jadi bagaimana selanjutnya dok?” tanya ibuku dengan raut wajah cemas dan nada tertekan.
Pria separuh baya yang hampir botak itu pun menatapku dari atas kacamatanya, sebelum mengalihkan pandangannya kembali ke ibuku. “Mungkin ada baiknya mengikuti terapi selama satu bulan ini, untuk melihat perkembangan”
Aku yang masih tidak mengerti—dan mungkin jadi lebih cemas daripada ibuku karena hal itu—memandang mereka bergantian, menuntut jawaban yang lebih sederhana.
“Positif Carpal Tunnel Syndrome” ibuku membuka penjelasan dengan satu kalimat yang masih tidak kumengerti saat kami duduk berdua di kamarku sore itu.
“Aduh mama, coba pakai bahasa yang lebih manusiawi dong!” kataku setengah jengkel.
Ibu masih menatapku dengan pandangan prihatin dan cemas. “Itu,” ibuku tampak memilih-milih kata, “sejenis penyakit syaraf akibat syaraf jari tanganmu tidak lagi berada di tempatnya, sehingga kamu kehilangan gerak jarimu, khususnya jempol, telunjuk, dan jari tengah”
“Kehilangan gerak jari?” aku mengulang pernyataan terakhir beliau dengan ekspresi yang lebih dramatis. “Maksud mama, aku tidak akan bisa menggerakkan tanganku lagi?” mataku mulai terasa panas.
“Bukan begitu Astri sayang” ibuku tampak mencoba menenangkanku. “Tidak benar-benar hilang, hanya tidak normal saja”
Aku berusaha mencerna kata-katanya. “Bisa sembuh kan?” hanya satu pertanyaan itu yang terus-menerus menghantuiku.
“Makanya kita coba ikut terapi, ya?”
Saat mendengar jawabannya, aku tahu bahwa artinya kesembuhanku hanya berupa kemungkinan. Seluruh tubuhku terasa lemas, seakan ada suatu kekuatan yang menyedot energiku tiba-tiba, hingga tampaknya yang bisa aku lakukan saat itu hanyalah mencoba bernafas dengan normal.
Hari-hari berikutnya malah lebih buruk lagi. Aku merasa hidup seperti robot. Makan dan minum bagiku tampak seperti kewajiban. Bahkan tawaku pun terasa hambar dan kosong. Dan saat-saat dimana aku sedang sendiri, aku hanya bisa melamun memandang langit, berharap semua akan baik-baik saja.
Sebetulnya tidak banyak yang berubah sejak vonis dokter tersebut. Aku tidak perlu memakai gips, kursi roda, atau alat bantu layaknya orang cacat. Teman-temanku pun tidak ada yang mengetahui soal penyakitku ini.
Bukan ingin mencoba menutup diri. Tapi aku terlalu takut mengatakan yang sebenarnya. Aku belum siap menghadapi pertanyaan-pertanyaan, tatapan cemas, atau rasa kasihan dari mereka. Aku ingin, setidaknya, orang lain bisa bersikap normal padaku.
Namun biar bagaimana pun, kehidupanku tidak lagi normal. Tulisanku semakin kecil dan jelek. Cara menulisku pun menjadi aneh dan sangat lambat. Hal ini tentu saja banyak mempengaruhi kegiatanku di kampus, terutama bidang akademik seperti penulisan laporan atau pun mencatat materi kuliah.
“Na, aku boleh pinjam catatanmu tidak?” tanyaku pada Nina, temanku yang paling rapih dan telaten dalam hal catat-mencatat.
“Kamu kenapa sih? Kok akhir-akhir ini jadi sering meminjam catatan?” Nina memandangku heran.
“Iya nih. Aku baru sadar, kalo ternyata aku lebih mudah mengerti materi kuliah kalau memperhatikan. Jadi aku sekarang malas mencatat. Maaf ya” kilahku.
“Oh, nggak apa-apa. Setiap hari juga nggak apa-apa” balas Nina tersenyum sambil memberikanku catatannya.
Aku mengambil catatannya sambil terus bersyukur dalam hati karena mempunyai teman yang begitu baik.
Terapi yang kulakukan di rumah sakit setelah kuliah, lebih seperti latihan untuk menggerakkan syaraf-syarafku. Bukan hanya tangan, tapi hampir seluruh tubuh. Dr. Ardi mengatakan latihan yang cukup dan kontinu bisa memulihkan koordinasi syaraf-syaraf tubuhku. Terapinya sendiri hanya berlangsung selama satu jam, tapi biasanya di akhir sesi ibuku dan Dr. Ardi akan berdiskusi tanpa melibatkan aku, sehingga kebanyakan waktu kuhabiskan di bangku taman rumah sakit. Memperhatikan pasien dan kerabatnya menikmati hari.
Sore pada hari keempat terapi, aku menjelajahi taman belakang rumah sakit dan menemukan sekelompok anak-anak berseragam putih rumah sakit sedang bermain dengan gembira, ditemani seorang pria yang tampak beberapa tahun lebih tua dariku.
Aku duduk mengawasi kegembiraan itu berlangsung. Entah mengapa, aku merasakan seperti ada kehidupan lain di sana. Kehidupan yang begitu berbeda, yang tidak aku temukan di bagian lain rumah sakit umum ini.
Sadar sedang diawasi, si pria tersenyum kepadaku dan melambaikan tangannya, mengajakku bergabung. Aku tersenyum sopan dan menggelengkan kepala. Tampak tidak puas dengan penolakanku, si pria mengatakan sesuatu kepada anak-anak tersebut dan berjalan menghampiriku, ikut duduk di sebelahku.
“Mau ikut main bersama?” tanyanya.
“Tidak, terima kasih” jawabku formal. Hal yang otomatis selalu kulakukan setiap bertemu orang asing berjenis kelamin laki-laki. Tampaknya aku wanita yang sangat konvensional, sehingga takut bersikap ramah akan disalahartikan sebagai tindakan yang ‘mengundang’.
Dia menatapku heran, dan sedetik kemudian tampak tertarik, entah pada wajahku atau jawabanku. “Kamu sedang apa disini?” tanyanya.
“Duduk” jawabku singkat. Dan dia pun spontan tergelak, tampak sangat geli.
“Maksudku apa yang dilakukan gadis kecil seperti kamu di rumah sakit sebesar ini?”
Aku berpaling dan menatap langsung dengan ekspresi tersinggung. “Maaf ya mas, tapi saya sudah 20 tahun. Saya ke sini menemani ibu saya” jawabku sinis. “Lagipula bukan urusan kamu juga kan?”
“Oh, menemani ibu…” ulangnya lambat-lambat. “Saya hanya khawatir. Habis, kamu datang dari sayap bagian UGD dan penyakit dalam”
Entah kenapa aku merasa pernyataannya terdengar tulus, dan perasaanku berubah. Sikapku pun melembut. “Nggak ada yang gawat kok” tambahku. “Kamu sedang apa dengan anak-anak itu?”
Menyadari sikapku yang berubah dan lebih terbuka, dia kembali tersenyum. “Aku sedang menemani anak-anak bermain”
“Mereka pasien disini?” tanyaku. Dan dia hanya membalas dengan anggukan. “Bagian apa?”
“Macam-macam” dia menyebutkan satu per satu penyakit-penyakit yang cukup berat. Patologi, syaraf, kanker, membuatku merinding, mengingat usia mereka yang masih begitu muda.
“Kamu perawat disini?” aku bertanya lagi, mencoba mengalihkan pembicaraan.
Dia pun menggeleng. “Ada dokter kenalanku disini. Waktu sedang bertemu beliau, aku melihat Ramon—anak yang itu,” dia menunjuk salah seorang bocah laki-laki, “sedang melihat ke luar jendela. Jadi aku ajak saja bermain. Lalu banyak anak yang ingin ikut. Aku pun berpikir, kenapa tidak menjadikan ini kegiatan rutin saja? Toh aku pun suka anak-anak” jelasnya.
Aku memandang kumpulan anak-anak yang sedang bermain dengan gembira itu, dan tiba-tiba jantungku berdesir. Timbul perasaan damai, melihat anak-anak begitu riang, padahal hidup mereka sangat berat. Menghadapi jarum suntik, obat, makanan rumah sakit, dan dibatasi oleh dinding-dinding bata rumah sakit yang dingin. Jauh dari pelukan orang tua mereka.
Tiba-tiba ada satu hal yang terbersit di pikiranku. “Jadi, kenalanmu dokter? Keluarga? Atau kamu mahasiswa kedokteran?”
Belum sempat dia menjawab, seorang anak perempuan tiba-tiba menangis. “Erika!” teriak pria itu, dan dia langsung bergegas menghampiri anak-anak yang sekarang sudah mengelilingi Erika. Pria itu menggendong Erika dan berlari membawanya masuk ke dalam rumah sakit, meninggalkanku terpaku di bangku taman. Tanpa tahu apa yang terjadi, atau siapa nama pria itu.
Esoknya pikiranku melayang ke pria itu, dan Erika. Aku penasaran, apa yang terjadi setelah itu? Bagaimana keadaan Erika? Apa mereka akan ada lagi di taman rumah sakit sore ini? Tiba-tiba kegiatan terapi bukan lagi hal yang kubenci. Malah aku menanti-nantikannya.
Sorenya setelah terapi, aku datang lagi ke taman belakang rumah sakit. Dan aku senang masih menemukan mereka. Alih-alih duduk di bangku taman, aku langsung bergegas menghampiri mereka yang tampaknya belum menyadari kedatanganku.
“Hai!” sapaku riang.
Pria itu tampak terkejut namun senang. “Hai! Kamu datang lagi?”
Aku mengangguk lalu langsung mengedarkan pandangan ke kumpulan anak-anak. Dia tampaknya menyadari dan mengerti apa yang sedang kucari.
“Erika hari ini tidak ikut” dia langsung menjelaskan dengan suara yang lebih dipelankan, agar anak-anak yang lain tidak mendengar. “Dia menderita leukimia, dan kemarin kadar trombositnya turun, sehingga perlu perawatan. Tampaknya dia terlalu banyak diluar” wajahnya tampak agak murung.
Aku yang menyadari perasaan bersalahnya, langsung menepuk bahunya—agak terlalu kencang—hingga dia mengerinyit. “Hei, nggak boleh cemberut. Kamu kan badutnya anak-anak, ayo buat mereka tertawa!”
Separuh kaget dan geli, dia pun tersenyum kembali. “Indra” katanya sambil menjulurkan tangan.
Aku pun menyambut tangannya dan menjabatnya, “Astri” Akhirnya kami pun berkenalan. Dan aku menghabiskan setengah jam berikutnya tertawa bersama Indra dan anak-anak lainnya.
Sejak saat itu, sikap dan perasaanku berubah drastis. Kesulitan-kesulitan akibat penyakitku tetap ada. Apalagi jika menyangkut akademik, dimana nilai-nilaiku baru terlihat mengalami penurunan. Bukan karena aku tidak cukup belajar, tapi lagi-lagi soal kemampuanku dalam menulis. Pembahasan laporanku jadi seadanya, jawaban kuis-kuisku tidak pernah selesai, begitu pula saat ujian essay. Hal ini kadang membuatku begitu sedih dan tertekan. Aku tidak mau mengemis keringanan pada dosen soal waktu atau penilaian. Aku tidak ingin diistimewakan untuk hal yang tidak kuinginkan, walaupun nilaiku menjadi ancamannya.
Tapi bertemu Indra dan anak-anak di rumah sakit membuatku berubah banyak. Aku tidak lagi merasa sendirian, bahkan kadang merasa beruntung dibandingkan orang lain dengan penyakit yang lebih berat. Kehadiran mereka membuatku menjadi lebih kuat menghadapi penyakitku, dan lebih dewasa dalam memandang hidupku.
“Menurutku, tidak ada orang yang lebih menghargai hidup dibanding orang-orang yang hampir kehilangannya” ujar Indra suatu sore, saat kami sedang duduk di bangku taman, mengawasi anak-anak bermain kucing dan tikus.
Pandanganku menerawang. Tampaknya tiba saatnya aku bercerita kepadanya soal penyakitku. Aku tidak khawatir akan pandangannya nanti. Bahkan, aku tidak berpikir dia akan melihatku seperti orang-orang kebanyakan.
“Aku sebenarnya bukan hanya menemani ibuku, tahu?” ujarku memulai.
“Aku tahu” sahutnya.
Aku berbalik memandangnya. “Kok bisa?!”
“Kamu jangan marah ya,” ujarnya cepat-cepat. “Aku kan pernah bilang, kenalanku seorang dokter disini, di bagian patologi. Jadi bukan soal yang sulit”
Aku menggeleng pelan. “Aku tidak marah kok. Aku justru lega, tidak usah bercerita panjang lebar. Menghemat air minum”
Dia tersenyum. “Pasti berat ya? Apalagi kamu masih kuliah, masih aktif-aktifnya”
“Kemarin sih iya” sahutku.
“Jadi sekarang sudah nggak?”
“Masih juga. Kan sekarang aku juga masih kuliah” candaku. “Tapi sekarang aku bisa ketemu kamu sama anak-anak. Dan entah kenapa, kalau ingat kalian, segalanya jadi ringan. Nilai-nilaiku, dimarahin dosen, semuanya jadi nggak begitu masalah”
Lagi-lagi dia tersenyum, sekarang lebih lembut. “Aku senang kalau ternyata kami bisa membantu kamu. Bukan berarti kamu harus ketemu kita setiap hari sih, tapi setidaknya kami bisa mengajarimu sesuatu. Bisa memberi kamu mata tambahan, untuk melihat hidup dari sisi lain” dia menghela nafas. “Ayahku sering bilang, kalau kamu nggak bisa lari, bersyukurlah kamu punya sepatu. Aneh ya? Tapi entah kenapa, buatku kata-kata itu bisa memberi semangat”
Kini giliranku tersenyum. Sungguh, aku telah menemukan malaikatku di sini, di rumah sakit ini, di tempat di mana kukira kehidupanku hampir berakhir.
Malamnya, kata-kata Indra terus terngiang. Tapi bukan hanya kata-katanya. Tatapannya, senyumnya, suaranya, bahkan aroma tubuhnya yang berbau keringat campur aroma khas rumah sakit. Tiga minggu sudah kami menghabiskan waktu bersama selama satu jam atau bahkan hanya setengah jam.
Aku hanya tahu nama depannya, tapi aku seperti sudah betul-betul mengenal pribadinya yang hangat, lucu, periang, dewasa, dan luar biasa bijaksana. Dia selalu menjadi orang pertama yang terbersit di benakku saat aku sedang dalam masa-masa sulit atau saat aku hanya butuh teman mengobrol.
Dan aku sadar, dia bukan lagi hanya seorang asing yang kutemui di rumah sakit. Dia telah menjadi teman, sahabat, tempatku bersandar dan alasanku bertahan hari demi hari. Dia telah menjadi begitu penting bagiku tanpa aku menyadarinya. Dan sekarang, begitu menyadari perasaanku, aku menjadi takut. Takut hubungan ini hanya ada selama aku menjalani terapi—yang hanya berlangsung kurang lebih seminggu lagi.
Untuk mencegah hal itu, untuk meyakinkanku bahwa hubungan ini benar-benar ada, bahwa aku tidak akan kehilangan dia walaupun sesi terapiku berakhir, aku pun memutuskan untuk mengatakan yang sejujurnya mengenai perasaanku padanya. Perasaan yang begitu kuat, sekaligus begitu rapuh. Tapi aku percaya dia akan mengerti, dan dia akan menerimaku apa adanya.
Keesokan harinya, aku tidak dapat menemukan kelompok kecil itu. Aku mencari ke seluruh taman, namun tetap tidak menemukannya. Aku bahkan menyuruh ibuku untuk pulang ke rumah duluan, takut pencarianku akan memakan waktu lama. Panik sekaligus putus asa, aku mulai menanyai perawat rumah sakit. Namun yang kudapatkan hanya gelengan kepala atau kata maaf, karena hanya sepotong nama ‘Indra’ yang dapat kujadikan petunjuk.
Tiba-tiba aku teringat akan kenalannya di bagian patologi. Aku langsung bergegas menuju bagian patologi, berharap dia akan lebih terkenal disana. Dan benarlah, perawat pertama yang kutanyai tidak memberiku gelengan kepala atau kata maaf. Tapi dia memandangku cemas dan menyuruhku menunggu di ruang tunggu.
Bingung dengan sikap dan tindakan perawat tersebut, aku pun hanya bisa menurut. Lega karena akhirnya pencarianku berakhir, sekarang aku malah cemas dan bingung. Kata-kata apa yang akan kukatakan padanya nanti? Apakah dia punya perasaan yang sama denganku? Atau jika tidak, masih bisakah kami berteman? Sungguh, aku hanya ingin berada di sisinya.
Namun alih-alih Indra, seorang dokter paruh baya menghampiriku dan berdiri di depanku. Sontak aku pun terbangun, dan dia langsung mengulurkan tangannya. “Saya Irfan, dokter bagian patologi yang menangani Indra”
Aku mengerinyitkan dahi, hingga tampaknya kedua alisku menyatu. “Menangani?”
Kini giliran dokter Irfan yang mengerinyitkan dahi, hingga beberapa detik kemudian ia tampak paham. “Mari ikut ke kantor saya”
Aku pun mengikutinya dan langsung duduk di seberang tempat duduknya. Ia mengeluarkan sebuah map berwarna kuning dengan label bertuliskan sebuah nama di atasnya. Arif Indra Prasetya. Dan dia pun duduk di kursinya, menghadapku.
“Dengan sangat menyesal saya harus mengatakan ini sendiri pada Anda” dia membuka kalimat dengan sangat formal. “Indra meninggal tadi malam, kecelakaan motor”
Aku langsung membekap mulutku. Berusaha menahan suara keterkejutan yang hendak keluar.
“Indra adalah pasien saya,” Dr. Irfan menjelaskan. “dia mengidap hemofili sejak kecil. Penyakit dimana darah sulit membeku. Penyakit ini adalah penyakit genetik, artinya bersifat diturunkan, dan belum ada obatnya hingga saat ini.
“Dia sebetulnya pasien rawat jalan. Tidak perlu sering check-up, hanya perawatan serius jika terjadi luka. Sejak kecil dia bercita-cita menjadi seorang pembalap. Namun tentu saja orang tuanya melarang. Dia harus menghindari kegiatan-kegiatan yang dapat membahayakan fisik, apalagi balapan yang sangat rawan sekali kecelakaan. Jadi sebagai gantinya, dia kuliah jurusan teknik mesin. Dia selalu menghabiskan waktunya disini sepulang kerja, bermain dengan pasien anak-anak”
Dr. Irfan berhenti sebentar. Dia menyilangkan jemarinya menopang dagu kemudian memandangku yang masih membeku dalam posisi yang sama.
“Dia bercerita tentangmu. Bagaimana kamu berubah perlahan-lahan dalam menyikapi hidup, terutama soal penyakitmu. Denganmu, dia merasa dibutuhkan. Sebaliknya, kamu membuatnya merasa lebih hidup, lebih berani untuk mencoba hal-hal baru. Tapi di situlah puncak masalahnya, semalam dia mencoba menaiki motor tua milik ayahnya, sebelum akhirnya menabrak pohon hingga terjatuh.
“Dia sempat berjalan pulang ke rumah. Tapi selain luka di tubuh, dia juga mengalami luka di kepala. Dia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit ini akibat kehabisan darah”
Air mataku langsung meleleh. Suaraku tak lagi dapat tertahan, dan aku langsung menangis terisak, hingga nafasku terasa sesak.
Dr. Irfan bangkit menghampiriku dan berlutut di depanku, menggenggam tanganku yang gemetar. Dia bicara dengan suara yang agak keras, berusaha melawan isak tangisku. “Dia sempat bilang padaku, betapa kamu berarti untuknya. Tapi dia tidak bisa mengatakannya sebelum dia berani menghadapi mimpinya sendiri”
Aku menggeleng-gelengkan kepala sedih. Tidak sanggup lagi mendengar cerita tentangnya. Tidak sanggup lagi membayangkan apa telah kuakibatkan padanya.
Dr. Irfan menggenggam tanganku lebih erat. “Astri, saya harap kamu tidak menyalahkan diri. Saya malah ingin berterima kasih padamu. Saya pribadi tidak pernah melihat Indra yang begitu mencintai hidup, begitu penuh syukur, dan begitu bersemangat” Kemudian dia melepaskan genggamannya dan berdiri. “Saya akan meninggalkan kamu sebentar” Dan dia pun keluar dari ruangan. Meninggalkanku yang masih terisak-isak sedih, meluapkan semua kesedihan, penyesalan, dan rasa kehilangan yang begitu dalam.
Dia lah yang mengajariku menghadapi hidup dari sisi yang berbeda. Dia lah yang mampu menggambar senyum dan mengundang tawa saat hidupku terasa hancur. Dia pula lah yang mengembalikan kehidupan dalam diriku.
Bagiku, kehilangan dirinya bagaikan badai yang tiba-tiba datang lagi, memporak-porandakan hidup yang sudah berhasil kutata. Tapi aku tidak akan jatuh atau bersedih. Dia telah meninggalkanku sebuah kenangan, dan pelajaran. Walaupun dia meninggalkanku selamanya, tapi bagiku dia tetap merupakan alasan untukku bertahan dan berjuang. Karena aku mencintainya. Dia adalah pelukis hidupku, dan aku mencintai kehidupan yang kami gambarkan bersama.
...The End...

8 komentar:
Ocy!!!!!
keren banget tulisannya! itu kisah nyata atau bukan sih?
hahaha...ga ko manik..ini 100%fiksi belaka.tapi senangnyaa manik sukaa..makasi manik^^
heh?? kok komentar aq yg ptma gag da c ochiequwh?? hikz3x..
oia.. cerpennya keren.. aq mpe nangis loh.. he..
py bwt yang happy ending dunkz.. he.. :*
heee..maap2..belom di setting waktu itu..hihi..wah,aku terharuuu bisa membuatmu terharuu..makasi desquwh:*
keren ka..
Rina selalu salut sama orang yang bs bikin rangkaian paragraf yang gak biasa. :)
ga biasa?aneh maksudnya??
ahahaa..i'm anything but ordinary..makasi na^^
pertamakali terbersit dalam hati, wuihhh keren banget nih tulisan.... wah ternyata oci punya bakat yang tdk terungkap.... ditunggu postingan selajutnya Cie...
YAY AKU KOMEN DISINI YAY! KEREN MASA KAK! MAAF YA CAPS LAPTOP KAKAK JEBOL GINI, HAHAHAHAHAHAHAHA~ *EVIL LAUGH* AJARIN KAK, AJARIN~
Posting Komentar